Alien, Ufo dan Planet Mars

Tersenyumlah, karena “Alien” selalu memiliki senyuman terindah yang tak dimiliki manusia biasa ^_^

pantai 17

Sekali sekali saya ingin menulis sesuatu yang sangat tidak serius, sangat konyol dan sangat tidak masuk akal. Ya, membaca judulnya saja sudah bisa dipastikan bahwa tulisan saya sangat tidak masuk akal. Seperti yang kita tahu bahwa di dalam perdebatan dunia, alien;ufo dan planet mars adalah sesuatu yang masih kontrofersial. Ada yang yakin mereka ada, ada yang sangat tidak yakin mereka itu nyata. Tapi disini saya tidak ingin membahas tentang perdebatan dunia itu. Biarkan saja mereka yang memecahkan misteri ini.
Kau tahu spongebob? yach tokoh kartun yang sangat konyol. Tapi dia adalah prototipe manusia apa adanya. Kalian pasti tahu tentang “kotak imajinasi” ala spongebob kan? Ya, sebuah kotak atau lebih tepatnya sebuah kardus, yang ketika kau masuk didalamnya kau akan menemukan dunia yang kau mau, dunia yang kau suka, dunia imajinasimu. Tapi ini sangat berbeda dengan dunia mimpi seperti di film kartun boneka “Caroline”.

Baca lebih lanjut

Iklan

Perempuan

Perempuan,

Tak akan habis kata untuk menuliskan kisah tentangnya

Tak akan cukup warna untuk melukis kehidupannya

Tak akan berhenti nada untuk mengalunkan setiap ceritanya

Perempuan,

Aku, Kamu dan Mereka

vintage,flower,flowers,fotografia,paisagens-35da7b947bff079fbdb61994616d3664_h_large

Entah sudah berapa banyak saya melihat, mendengar dan merasakan berbagai macam kisah tentang Perempuan.
Tentang seorang Ibu, Isteri, Kakak, Nenek, Tante, Budhe…

Tentang seorang Remaja, Lajang, Janda, Single Parents…

Tentang seorang Ustadzah, Wanita Karir, Pejabat, PRT, sampai TKI…

Perempuan,

Siapapun dirimu, Bagaimanapun Rupa dan Keadaan fisikmu, Apapun status, pekerjaan, jabatan dan latar pendidikanmu,

Kau tetap Ayu,

Kau tetap Cantik,

Kau tetap Bidadari,

Layaknya Puspa yang selalu mekar indah dimanapun dia tumbuh…

Perempuan,

Ayu-mu tercipta karena tutur ucapmu

Cantik-mu terukir karena sikap dan lakumu

Akhlak-mu adalah kehormatanmu sebagai Bidadari

Perempuan,

Kau adalah anak, kau adalah kakak, kau adalah isteri, kau adalah ibu, kau adalah saudara, kau adalah sahabat

Sehebat apapun dirimu, setinggi apapun pangkatmu, sepintar apapun dirimu,

Kau tetap Perempuan

Perempuan yang rendah hati, yang lembut tapi tak lemah, yang bijaksana, yang tangguh,

Perempuan yang berhati nurani, yang peduli, yang tidak keras hatinya,

Perempuan yang selalu menjaga kehormatannya,

Perempuan yang selalu memberi yang terbaik untuk Keluarganya, untuk Orang-orang disekitarnya, untuk Agamanya, untuk Bangsa dan Negaranya, untuk Dunia dan Akheratnya.

 

Semua Akan selalu Istimewa

Karena Aku, Kamu dan Mereka,

Perempuan…

for all my Inspiration, for all women in the world ^_^

Travelling Part 3 – Tanjungsari Harbour, Pemalang

28 November 2012

Kota Pemalang masih menjadi tujuan langkah perjalananku akhir-akhir ini. Perjalanan dinas kantor awalnya yang berubah menjadi plesir dadakan dan hanya sebentar (mencuri waktu sebelum pulang bertugas)

di sebuah daerah perkampungan nelayan, yang merupakan pelabuhan di Kota Pemalang. Persisnya di daerah Tanjung Sari, daerah sebelum tempat wisata laut Widuri yang sudah terkenal. Sebuah daerah yang tidak kalah indah, meskipun sedikit ada bau menyengat karena dekat dengan tempat pelelangan ikan.

Well, ternyata belahan bumi yang saya tapaki memang baru sepersekian bagian saja. Selalu ada tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya…

Selamat menikmati perjalanan kehidupan ^_^

DSCN0952DSCN0965DSCN0967DSCN0970DSCN0978DSCN0991DSCN1002DSCN0984

Sebuah Renungan 24 Tahun Perjalanan

Perjalanan menuju akhir tahun waktu dan seperempat kehidupan yang sudah berlalu. Selalu ada makna, ada hikmah, ada pelajaran yang Tuhan berikan. Betapa seharusnya aku bersyukur dengan semua yang ada yang telah aku jalani. Bahwa kehidupanku adalah kehidupan yang terbaik yang Tuhan telah beri. Ingat ada sebuah rumus kehidupan yang selalu aku pahami,

“Orang lain belum tentu sanggup menjalani kehidupan kita, begitupun dengan kita belum tentu sanggup menjalani kehidupan milik orang lain. Ketika kita merasa iri dengan takdir yang lain bisa jadi oranglain justru sedang iri dengan takdir kita.”

Jadi, tidak ada alasan untuk kita mengutuk takdir. Kehidupan kita akan selalu nampak istimewa.

DSCN0982

Berdiri pada posisi hari ini adalah sebuah hal yang tak bisa diuraikan, ini bukan kehidupan yang aku bayangkan, semua hal ini bukan takdir yang aku impikan. Aku masih ingat bagaimana detail mimpiku sewaktu aku masih di bangku sekolah, aku merangkainya bersama Ibu dan Ayah waktu itu. Betapa indahnya arti keluarga bagiku saat itu. Hampir aku tak membutuhkan siapapun lagi. Cukup bagiku memiliki mereka. Tapi Tuhan selalu punya rencana yang berbeda.

Tapi, meskipun hari ini bukanlah takdir yang aku impikan, aku tak mau menjadikannya sebuah takdir yang menyedihkan.  Ini bukan kegagalan atas impianku. Bukan, karena Tuhan tidak akan pernah menggagalkan rencana HambaNYA.  Tuhan hanya ingin mengajariku banyak hal.

Takdirku hari ini adalah takdir yang tak pernah kubayangkan, tapi ini adalah sebuah Takdir yang begitu Luar Biasa, sangat luar biasa sampai otaku yang kerdil ini tak sanggup membayangkan sebelumnya.

Segetir apapun rasa yang ada, sebanyak apapun airmata yang ingin keluar, entah bagaimana perjalanan ini selalu membuatku tiba tiba tersenyum.  Terimakasih Tuhan, engkau selalu menemaniku dalam perjalanan takdir yang KAU pilihkan untukku.

Sebuah Takdir yang menyadarkanku tentang sebuah pesan kehidupan,

–  Sebesar apapun cintaku pada keluargaku, Allah menginginkan agar aku lebih mencintaiNYA, tak terbagi. Allah memperlihatkan sebuah takdir padaku, semua ini milik Allah. Aku tak bisa memiliki keluargaku sepenuhnya. Jikapun aku ingin memiliki cinta mereka, maka aku harus mencintai pemiliknya dahulu. Dengan memiliki cinta Allah maka aku akan bisa memiliki cinta keluargaku, utuh.

–  Hidupku bukan hanya milik keluargaku saja, aku tetap butuh oranglain dan aku juga dibutuhkan orang lain. Allah memperlihatkan lagi padaku, ketika Allah mengambil separuh keluargaku, Allah menggantikannya dengan banyak orang yang mau menjadi keluargaku dengan sukarela. Bahwa ketika kita mencintai orangtua kita karena Allah maka seluruh penduduk langit dan bumi akan mencintai kita karena Allah pula.

– Bahwa Allah tidak pernah tidur. Semua ujian dan cobaan yang Allah berikan sudah sepaket dengan jalan keluar. Tak usah takut kehabisan rejeki dari Allah, asal kita berusaha untuk mencarinya. Tak perlu takut ketika dalam kegelapan, kesempitan, dan kerumitan. Selalu ada Allah yang memberi cahaya, melapangkan, dan melegakan semua permasalahan kita.

– Allah selalu ada untuk kita, Allah selalu ingat dengan kita, Allah selalu tersenyum untuk kita bahkan ketika kita lupa mengingat Allah, ketika kita alpa untuk bertemu denganNYA, ketika kita selalu mengutuk takdir. Allah tak pernah marah pada kenakalan kita. Allah selalu memberikan sandaran yang terbaik untuk segala kelelahan yang kita rasakan.

Sadar atau tidak sadar atau kita yang tak pernah mau sadar,

Betapa Allah mencintai kita, Allah menyayangi kita, Allah selalu menjadikan kita kesayangan.

Masihkah kita alpa kepadaNYA,

Masihkah kita lupa terhadapNYA,

Masihkah kita mengutuk takdirNYA,

Masihkah kita tak mau BERSYUKUR???

Ya Robb, dekap hamba selalu dalam keridhoanMU.  Kuatkanlah langkah ini untuk selalu mampu menyelesaikan setiap perjalanan kehidupan yang KAU pilihkan untukku.

Ijinkan Hamba untuk selalu bisa mencintaiMU, mencintai orang tua, mencintai keluarga, mencintai semua orang yang selalu ada dalam kehidupanku…

Ijinkan selalu agar setiap kehidupan yang akan dilalui selalu dalam kebermanfaatan, berjalan seperti rencanaMU, sesuai dengan hasil akhir yang ingin KAU ajarkan padaku untuk selalu berlajar dan bermanfaat untuk kehidupan milikMU.

—Tertunduk dalam tangis kebersyukuran—

*Perjalanan menuju seperempat abad kehidupan

Travelling Part 2 – Outbond, Jambe Kembar – Pemalang

Pemalang, 25 November 2012

Suasana bulan Muharram masih tampak meriah, ahad pagi itu melihat senyum puluhan anak yatim membuat kebahagiaan tersendiri. Saya ternyata tidak sendiri, bahkan saya jauh lebih beruntung dibandingkan mereka. Diusia yang masih begitu kecil mereka harus ikhlas hidup dengan keluarga yang tak lagi lengkap. Terimakasih Tuhan, KAU telah mengijinkan aku untuk hidup bersama orangtuaku meskipun hanya selama 20 tahun. Waktu yang relatif lama jika dibandingkan anak-anak ini yang mungkin dari lahir sudah tak bertemu Ayah atau Ibu nya.
Ahad pagi ini, aku mengisi acara outbond bersama puluhan anak yatim di daerah Pemalang.

Bahagia, Bersyukur, dan Terharu…..

Allah selalu sayang pada HambaNYA yang selalu Percaya, bahwa Kehidupan ini adalah yang Terbaik yang harus kita jalani ^__^

Aku dan Mereka (Anak-anak Rosulullah)

386537_4623487919338_1351731066_n600238_4623492199445_436765412_n534702_4623531800435_1924265968_n531041_4623544440751_765218876_n556105_4623485839286_223714926_n394987_4623467198820_510640846_n

Travelling Part 1 – Jogjakarta

Hanya ingin  mencoba menuliskan dan menggambarkan perjalanan saya akhir-akhir ini. Terkadang ketika kita hanya diam di satu tempat dengan rutinitas yang sama itu akan terasa membosankan. Tapi cobalah keluar, menjelajah bagian bumi yang lain. Hey girl, you’re never alone, life is beautifull ^_^

Bentangan bumi ini masih sangat luas, dan kau baru menjelajahi seper sekian kecil bagian saja….

Jadi mari berkeliling, berjalan sejauh apapun, sejauh kau mampu membentang bumi…

Meskipun pergi ke Kota Jojga bukan yang pertama kalinya, tapi entah kenapa kali ini ada rasa lega. Kebahagiaan yang melegakan. Seperti sedang menikmati Liburan pasca Ujian Semesteran ^__^

Go Travelling ^_^

Malioboro StreetMalioboro, JogjakartaGembira Loka Zoo04112012(006)Speed

 

 

 

 

 

Hujan pun akan Reda, pada akhirnya…

 

“Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada Pesta yang tak pernah Usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi”

Sebuah Catatan Kecil yang saya temukan di sebuah forum diskusi,  Hanya sekedar berbagi…

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua,

“Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga ?” Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup – jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.

Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik.Ini semua dapat diartikan: supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik. Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.

Berkeras hati & berusaha mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.

Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. Karena tiada badai yang tak berlalu. Tiada Pesta yang tak pernah Usai. Semua yang ada didunia ini tiada yang abadi

My Graduation : “Senyuman Langit”

Ayah.. Ibu… I Love You

Ijinkan aku untuk selalu bisa mengukir senyum kalian di Langit.

Pagi itu, mengingatkanku pada 7 tahun silam.

Ketika semua bahagia masih ada, ketika wajah kalian masih bisa kulihat, senyum kalian masih terasa hangat.

“Omelan kecil seorang ibu yang sibuk  menyiapkan barang-barang keperluan untuk anaknya yang akan pergi menuntut ilmu di kota besar sana. Ia sibuk sekali, sambil sesekali menyelipkan nasehat untuk putrinya yang akan memulai hidup sendirian, untuk menuntut ilmu jauh dari rumah. Ia sudah biasa menyiapkan bekal pagi, menyiapkan kebutuhan sehari-hari untuk putrinya, tapi kali ini berbeda. Putrinya tak pergi sehari dua hari, putrinya bukan sekedar berangkat sekolah lalu siang kembali ke rumah. Jadilah semuanya tampak begitu ramai. Semua kebutuhan ia siapkan, seperti mau pindahan rumah saja. Semua merek obat hampir ia bawa (isi apotek pindah ke koper).  Begitulah Ibu… Cerewet, Gampang Panik, tapi sangat lembut, semua detail tentang keluarga ia yang selalu paham. Begitu sayangnya dia dengan putrinya, apapun yang dibutuhkan dia penuhi agar disana tak kekurangan apapun.

Ayah sedang sibuk mengatur barang di mobil (hasil pinjam di kantornya), tak banyak bicara, wajahnya yang keras ditambah kumis yang menempel selalu membuat orang mengira sosoknya menyeramkan dan galak. Tapi dia adalah orang paling humoris yang pernah kukenal, aku masih ingat bagaimana dia selalu mengajak temanku yang datang kerumah berbincang dan bercanda. Terpenting, dia adalah orang yang sangat mencintai keluarganya. Terlebih kepada putrinya. Apapun dia akan penuhi, walau dalam keadaan sakitpun dia tetap rajin bekerja. Dan hari itu tergambar jelas kebahagiaan dalan raut wajahnya, penuh kebanggaan. dia akan mengantar putri kesayangannya untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi selepas SMA, ia korbankan kesempatannya untuk kuliah demi putrinya. “Bapak 10 tahun lagi mungkin sudah pensiun jadi buat apa kuliah. Mending buat kamu sama adekmu saja yang kuliah. Sekolah yang rajin ya Nduk, apapun kalo untuk sekolah Bapak selalu usahakan ada untuk kalian.”

Ayah…Ibu… Ijinkan aku bercerita disini untuk mengenang kalian.

Ibu, aku masih ingat bagaimana kau begitu panik ketika aku kabari bahwa aku sedang sakit terkena alergi kulit karena tidak cocok dengan air disini. Ibu, aku hanya alergi biasa. tapi kepanikanmu seperti aku sedang masuk IGD saja… Siang malam kau telfon hanya memastikan kondisiku baik baik saja. Begitulah Ibu…

Ayah, masih ingat kejadian ketika aku semester 5. Ketika ayah terbaring kritis di ruang perawatan jantung di RSUD Karyadi. Biaya pengobatan ayah tidak sedikit. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Aku kemudian berbincang pada ibu, bagaimana seandainya jika aku keluar saja dari kuliah. Aku pergi ke Bandung ikut saudaraku yang bekerja di pabrik tekstil disana. Kami sudah tidak punya cukup uang untuk kuliahku. Karena sekarang yang terpenting adalah ayah bisa sehat kembali. Ibu sudah setuju, bahkan aku sudah pamit ke beberapa teman kuliahku. Tapi, selang beberapa hari, Ayah mengetahui rencanaku. Ayah marah, Ayah bilang dia akan sembuh, jangan pikirkan tentang biaya, aku harus tetap kuliah. Selama Ayah masih ada, aku tak boleh putus sekolah. Dan entah bagaimana keajaibanpun datang seminggu kemudian Ayah dinyatakan membaik dan boleh pulang, padahal sebelumnya dokter sudah memvonis kesehatannya tinggal 26 % saja. Ayah begitu besar kau mencintai putrimu ini.

Tahun 2008 ketika aku semester 7,

Dering telfon dari Ayah yang mengabarkan ibu kritis disaat aku sedang praktek mengajar seperti angin ribut yang menghantam kehidupanku. Aku pulang seketika dan mendapati Ibu sudah tak bisa berkomunikasi lagi. Tubuhnya lumpuh total, hanya tatapan hangatnya yang masih bisa melihatku dengan tatapan penuh cinta. Ibu maafkan aku, sampai hari ini aku tak pernah tau apa yang menjadi keinginan terbesarmu. Aku tak pernah tau apa yang ingin kau sampaikan sebagai pesan terakhirmu kepadaku. Yang aku tahu kau begitu mencintaiku… Sangat.

I Love You Mom…

100 hari selepas kepergian Ibu, Pagi itu di awal Desember. Badai kembali hadir memporakporandakan kehidupanku yang masih hancur.

Ayah, tadi malam baru saja kau membangunkanku untuk bercerita banyak. Kau titipkan pesan dan nasehat untuk ku dan adik. Kau begitu gagah malam itu, pelukanmu masih terasa sampai hari ini. Tapi kenapa pagi itu kau begitu saja pergi tanpa pamit padaku. Ayah… pagi itu aku hanya bisa berteriak memanggil namamu. ” Ayah janji mau datang di wisudaku nanti…. Ayah sudah janji….”.

I Love You Dad…

Dan hari ini 17 Oktober 2012,

Pagi ini di tempat kau dulu mengantarku untuk mendaftar agar putrimu bisa menggapai cita-citanya.

Pagi ini juga di tempat ini juga, Mimpi itu tercapai sudah, cita-citaku dan cita-cita kalian berakhir dengan bahagia.

Pagi ini aku dan adik yang ada disini. Tapi aku yakin kalian juga ada disini.  Ditempat ini mengantarku kembali menyelesaikan mozaik kehidupanku yang pertama. Aku bisa merasakan senyum kalian, kebahagiaan dan kebanggaan kalian disini.

Ayah.. Ibu… I Love You

Ijinkan aku untuk selalu bisa mengukir senyum kalian di Langit.

Senja (lagi)

SONY DSC

Siluet kemerahan itu selalu membuat ingat satu hal…

Kedamaian,

biarkan tubuhmu terkena pancarannya, pejamkan mata, dan tersenyumlah…

Sinar itu seolah mengalirkan kebahagiaan. Yang tak terungkap, yang tak terkatakan. Yang tak bisa diwujudkan.

Kehidupan tak pernah salah memilihkan takdir untuk seseorang.

Berdiri di ujung senja,

menghela nafas untuk semua yang sudah kita lakukan hari ini,

Menghadapi Gelap Malam,

untuk merenungi apa yang telah dan akan terjadi esok,

Selagi hatimu percaya akan satu hal.

Bahwa janji kehidupan akan selalu ada bagi mereka yang Percaya.

“Esok akan ada hari yang selalu lebih indah dari hari ini.”

—————————-*****—————————

Minggu depan aku akan mengukir Senyum itu dilangit Senja, di tempat dulu kau pernah berucap tentang harapan dan mimpi untuk masa depanku,

Ayah…Ibu…

Ijinkan aku untuk tidak menangis nanti….

Ijinkan aku untuk melihat senyum itu

Selalu…

Diantara Senja