Sebuah Renungan 24 Tahun Perjalanan


Perjalanan menuju akhir tahun waktu dan seperempat kehidupan yang sudah berlalu. Selalu ada makna, ada hikmah, ada pelajaran yang Tuhan berikan. Betapa seharusnya aku bersyukur dengan semua yang ada yang telah aku jalani. Bahwa kehidupanku adalah kehidupan yang terbaik yang Tuhan telah beri. Ingat ada sebuah rumus kehidupan yang selalu aku pahami,

“Orang lain belum tentu sanggup menjalani kehidupan kita, begitupun dengan kita belum tentu sanggup menjalani kehidupan milik orang lain. Ketika kita merasa iri dengan takdir yang lain bisa jadi oranglain justru sedang iri dengan takdir kita.”

Jadi, tidak ada alasan untuk kita mengutuk takdir. Kehidupan kita akan selalu nampak istimewa.

DSCN0982

Berdiri pada posisi hari ini adalah sebuah hal yang tak bisa diuraikan, ini bukan kehidupan yang aku bayangkan, semua hal ini bukan takdir yang aku impikan. Aku masih ingat bagaimana detail mimpiku sewaktu aku masih di bangku sekolah, aku merangkainya bersama Ibu dan Ayah waktu itu. Betapa indahnya arti keluarga bagiku saat itu. Hampir aku tak membutuhkan siapapun lagi. Cukup bagiku memiliki mereka. Tapi Tuhan selalu punya rencana yang berbeda.

Tapi, meskipun hari ini bukanlah takdir yang aku impikan, aku tak mau menjadikannya sebuah takdir yang menyedihkan.  Ini bukan kegagalan atas impianku. Bukan, karena Tuhan tidak akan pernah menggagalkan rencana HambaNYA.  Tuhan hanya ingin mengajariku banyak hal.

Takdirku hari ini adalah takdir yang tak pernah kubayangkan, tapi ini adalah sebuah Takdir yang begitu Luar Biasa, sangat luar biasa sampai otaku yang kerdil ini tak sanggup membayangkan sebelumnya.

Segetir apapun rasa yang ada, sebanyak apapun airmata yang ingin keluar, entah bagaimana perjalanan ini selalu membuatku tiba tiba tersenyum.  Terimakasih Tuhan, engkau selalu menemaniku dalam perjalanan takdir yang KAU pilihkan untukku.

Sebuah Takdir yang menyadarkanku tentang sebuah pesan kehidupan,

–  Sebesar apapun cintaku pada keluargaku, Allah menginginkan agar aku lebih mencintaiNYA, tak terbagi. Allah memperlihatkan sebuah takdir padaku, semua ini milik Allah. Aku tak bisa memiliki keluargaku sepenuhnya. Jikapun aku ingin memiliki cinta mereka, maka aku harus mencintai pemiliknya dahulu. Dengan memiliki cinta Allah maka aku akan bisa memiliki cinta keluargaku, utuh.

–  Hidupku bukan hanya milik keluargaku saja, aku tetap butuh oranglain dan aku juga dibutuhkan orang lain. Allah memperlihatkan lagi padaku, ketika Allah mengambil separuh keluargaku, Allah menggantikannya dengan banyak orang yang mau menjadi keluargaku dengan sukarela. Bahwa ketika kita mencintai orangtua kita karena Allah maka seluruh penduduk langit dan bumi akan mencintai kita karena Allah pula.

– Bahwa Allah tidak pernah tidur. Semua ujian dan cobaan yang Allah berikan sudah sepaket dengan jalan keluar. Tak usah takut kehabisan rejeki dari Allah, asal kita berusaha untuk mencarinya. Tak perlu takut ketika dalam kegelapan, kesempitan, dan kerumitan. Selalu ada Allah yang memberi cahaya, melapangkan, dan melegakan semua permasalahan kita.

– Allah selalu ada untuk kita, Allah selalu ingat dengan kita, Allah selalu tersenyum untuk kita bahkan ketika kita lupa mengingat Allah, ketika kita alpa untuk bertemu denganNYA, ketika kita selalu mengutuk takdir. Allah tak pernah marah pada kenakalan kita. Allah selalu memberikan sandaran yang terbaik untuk segala kelelahan yang kita rasakan.

Sadar atau tidak sadar atau kita yang tak pernah mau sadar,

Betapa Allah mencintai kita, Allah menyayangi kita, Allah selalu menjadikan kita kesayangan.

Masihkah kita alpa kepadaNYA,

Masihkah kita lupa terhadapNYA,

Masihkah kita mengutuk takdirNYA,

Masihkah kita tak mau BERSYUKUR???

Ya Robb, dekap hamba selalu dalam keridhoanMU.  Kuatkanlah langkah ini untuk selalu mampu menyelesaikan setiap perjalanan kehidupan yang KAU pilihkan untukku.

Ijinkan Hamba untuk selalu bisa mencintaiMU, mencintai orang tua, mencintai keluarga, mencintai semua orang yang selalu ada dalam kehidupanku…

Ijinkan selalu agar setiap kehidupan yang akan dilalui selalu dalam kebermanfaatan, berjalan seperti rencanaMU, sesuai dengan hasil akhir yang ingin KAU ajarkan padaku untuk selalu berlajar dan bermanfaat untuk kehidupan milikMU.

—Tertunduk dalam tangis kebersyukuran—

*Perjalanan menuju seperempat abad kehidupan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s