My Graduation : “Senyuman Langit”


Ayah.. Ibu… I Love You

Ijinkan aku untuk selalu bisa mengukir senyum kalian di Langit.

Pagi itu, mengingatkanku pada 7 tahun silam.

Ketika semua bahagia masih ada, ketika wajah kalian masih bisa kulihat, senyum kalian masih terasa hangat.

“Omelan kecil seorang ibu yang sibuk  menyiapkan barang-barang keperluan untuk anaknya yang akan pergi menuntut ilmu di kota besar sana. Ia sibuk sekali, sambil sesekali menyelipkan nasehat untuk putrinya yang akan memulai hidup sendirian, untuk menuntut ilmu jauh dari rumah. Ia sudah biasa menyiapkan bekal pagi, menyiapkan kebutuhan sehari-hari untuk putrinya, tapi kali ini berbeda. Putrinya tak pergi sehari dua hari, putrinya bukan sekedar berangkat sekolah lalu siang kembali ke rumah. Jadilah semuanya tampak begitu ramai. Semua kebutuhan ia siapkan, seperti mau pindahan rumah saja. Semua merek obat hampir ia bawa (isi apotek pindah ke koper).  Begitulah Ibu… Cerewet, Gampang Panik, tapi sangat lembut, semua detail tentang keluarga ia yang selalu paham. Begitu sayangnya dia dengan putrinya, apapun yang dibutuhkan dia penuhi agar disana tak kekurangan apapun.

Ayah sedang sibuk mengatur barang di mobil (hasil pinjam di kantornya), tak banyak bicara, wajahnya yang keras ditambah kumis yang menempel selalu membuat orang mengira sosoknya menyeramkan dan galak. Tapi dia adalah orang paling humoris yang pernah kukenal, aku masih ingat bagaimana dia selalu mengajak temanku yang datang kerumah berbincang dan bercanda. Terpenting, dia adalah orang yang sangat mencintai keluarganya. Terlebih kepada putrinya. Apapun dia akan penuhi, walau dalam keadaan sakitpun dia tetap rajin bekerja. Dan hari itu tergambar jelas kebahagiaan dalan raut wajahnya, penuh kebanggaan. dia akan mengantar putri kesayangannya untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi selepas SMA, ia korbankan kesempatannya untuk kuliah demi putrinya. “Bapak 10 tahun lagi mungkin sudah pensiun jadi buat apa kuliah. Mending buat kamu sama adekmu saja yang kuliah. Sekolah yang rajin ya Nduk, apapun kalo untuk sekolah Bapak selalu usahakan ada untuk kalian.”

Ayah…Ibu… Ijinkan aku bercerita disini untuk mengenang kalian.

Ibu, aku masih ingat bagaimana kau begitu panik ketika aku kabari bahwa aku sedang sakit terkena alergi kulit karena tidak cocok dengan air disini. Ibu, aku hanya alergi biasa. tapi kepanikanmu seperti aku sedang masuk IGD saja… Siang malam kau telfon hanya memastikan kondisiku baik baik saja. Begitulah Ibu…

Ayah, masih ingat kejadian ketika aku semester 5. Ketika ayah terbaring kritis di ruang perawatan jantung di RSUD Karyadi. Biaya pengobatan ayah tidak sedikit. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Aku kemudian berbincang pada ibu, bagaimana seandainya jika aku keluar saja dari kuliah. Aku pergi ke Bandung ikut saudaraku yang bekerja di pabrik tekstil disana. Kami sudah tidak punya cukup uang untuk kuliahku. Karena sekarang yang terpenting adalah ayah bisa sehat kembali. Ibu sudah setuju, bahkan aku sudah pamit ke beberapa teman kuliahku. Tapi, selang beberapa hari, Ayah mengetahui rencanaku. Ayah marah, Ayah bilang dia akan sembuh, jangan pikirkan tentang biaya, aku harus tetap kuliah. Selama Ayah masih ada, aku tak boleh putus sekolah. Dan entah bagaimana keajaibanpun datang seminggu kemudian Ayah dinyatakan membaik dan boleh pulang, padahal sebelumnya dokter sudah memvonis kesehatannya tinggal 26 % saja. Ayah begitu besar kau mencintai putrimu ini.

Tahun 2008 ketika aku semester 7,

Dering telfon dari Ayah yang mengabarkan ibu kritis disaat aku sedang praktek mengajar seperti angin ribut yang menghantam kehidupanku. Aku pulang seketika dan mendapati Ibu sudah tak bisa berkomunikasi lagi. Tubuhnya lumpuh total, hanya tatapan hangatnya yang masih bisa melihatku dengan tatapan penuh cinta. Ibu maafkan aku, sampai hari ini aku tak pernah tau apa yang menjadi keinginan terbesarmu. Aku tak pernah tau apa yang ingin kau sampaikan sebagai pesan terakhirmu kepadaku. Yang aku tahu kau begitu mencintaiku… Sangat.

I Love You Mom…

100 hari selepas kepergian Ibu, Pagi itu di awal Desember. Badai kembali hadir memporakporandakan kehidupanku yang masih hancur.

Ayah, tadi malam baru saja kau membangunkanku untuk bercerita banyak. Kau titipkan pesan dan nasehat untuk ku dan adik. Kau begitu gagah malam itu, pelukanmu masih terasa sampai hari ini. Tapi kenapa pagi itu kau begitu saja pergi tanpa pamit padaku. Ayah… pagi itu aku hanya bisa berteriak memanggil namamu. ” Ayah janji mau datang di wisudaku nanti…. Ayah sudah janji….”.

I Love You Dad…

Dan hari ini 17 Oktober 2012,

Pagi ini di tempat kau dulu mengantarku untuk mendaftar agar putrimu bisa menggapai cita-citanya.

Pagi ini juga di tempat ini juga, Mimpi itu tercapai sudah, cita-citaku dan cita-cita kalian berakhir dengan bahagia.

Pagi ini aku dan adik yang ada disini. Tapi aku yakin kalian juga ada disini.  Ditempat ini mengantarku kembali menyelesaikan mozaik kehidupanku yang pertama. Aku bisa merasakan senyum kalian, kebahagiaan dan kebanggaan kalian disini.

Ayah.. Ibu… I Love You

Ijinkan aku untuk selalu bisa mengukir senyum kalian di Langit.

2 thoughts on “My Graduation : “Senyuman Langit”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s