Perempuan, sosok tak sempurna tapi bermakna


“Ku kagumi kelemahanmu, kucintai semua kekuranganmu. Itu bagiku indah, Kau yang tak sempurna”

-Bondan feat 2black-

Perempuan dan keanggunan adalah hal tak terpisahkan,

Perempuan itu identik dengan cantik, putih, halus, lembut dan keibuan. Orang jawa bilang “kemayu”

Kata-kata itu hanya membuat senyuman tak nyaman  dalam pikiranku.

Apa harus demikian?

Lalu, Bagaimana dengan perempuan yang tak bisa seperti itu karena takdir atau bahkan keadaan….

Pagi2 seorang ibu yang notabene adalah seorang single parent, yang harus memastikan anak2nya rapi berangkat sekolah dan sudah sarapan, ia sendiri harus segera beranjak menuju tempat nya bekerja. Tak sempat lagi berkaca untuk memastikan dirinya cantik. Baginya cantik adalah ketika dia bisa tersenyum bahagia melihat anak2nya tumbuh menjadi luarbiasa.

Pagi2 seorang ibu berusia separuh baya, memikul dagangannya di pasar. Berjalan sambil berdoa semoga apa yang dia pikul pagi ini membawa rejeki bagi keluarganya dirumah. Tak sempat lagi memakai wewangian. Baginya harum adalah ketika dia mencium aroma keberkahan rejeki yang dia bawa pulang kerumah nanti.

Siang hari, seorang gadis remaja berjalan dengan membawa sepaket barang dagangan yang harus dia tawarkan dari rumah ke rumah. Ayahnya mungkin hanya kuli bangunan dan ibunya buruh cuci sedangkan adiknya masih  terlalu kecil untuk membantunya bekerja. Tak sempat lagi bersolek ala “korea” seperti remaja yang lainnya. Baginya Remaja adalah ketika dia bisa meringankan ekonomi keluarganya bukan malah menjadi beban orangtuanya.

Malam hari seorang perempuan berusia 40 tahun, wanita karier dan belum menikah. Bekerja disebuah rumah sakit sebagai seorang perawat. Berjalan pulang dengan wajah yang tergurat lelah. Biasanya malah ini waktunya dia baru berangkat karena harus berjaga malam. Baginya kesempurnaan adalah ketika dia tetap bisa bermanfaat meskipun dalam kesendirian. Ketika perempuan yang lain sudah merasa sempurna hanya karena telah mengenapkan separuh diennya.

Aku melihatnya, aku menyaksikannya, aku tersenyum haru untuknya.

Di pagi hari ketika akan berangkat bekerja

Di siang hari ketika harus bekerja di luar kantor

Di malam hari ketika akan pulang kesebuah tempat yang masih bisa kusebut rumah….

Ternyata, aku tidak sendirian

Diluar sana masih banyak perempuan yang selalu bersahabat dengan pagi, dengan terik matahari,  dan dengan dinginnya malam.

Perempuan yang tak sempat lagi berkaca, bersolek, merawat tubuhnya, menghias wajahnya.

Baginya seuntai senyuman dari keluarga dan orang-orang yang disekitarnya, sudah cukup membuat dia merasa menjadi perempuan sempurna.

Kerja keras, lelah dan pengorbanannya terbayar oleh sebuah hal yang membuatnya berarti untuk orang-orang disekitarnya.

Kau tau, mereka tak butuh pujian, tak butuh penggemar, tak butuh penghargaan.

Mereka hanya butuh sebuah senyuman dan sebuah tempat dihati orang2 yang dia cintai.

-Perempuan dan Kehidupan-

One thought on “Perempuan, sosok tak sempurna tapi bermakna

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s