Cinta dan Sebuah Takdir


” Karena kehidupan adalah rangkaian alur yang harus kita jalani semuanya, bukan hanya satu bagian saja”

Lagi-lagi percakapan hangat ini sampai pada sebuah diskusi yang menjenuhkan. Kenapa orang-orang hobi sekali membicarakan tentang pernikahan, pasangan hidup dan cinta. Apakah hidup menjadi kelam tanpa pasangan hidup, apakah hidup menjadi sebuah derita tanpa romantisme cinta, apakah hidup akan berhenti ketika kita tidak berbicara satu hal yang bernama “pernikahan”….

Well, I’m a single woman and I’m still normal. Saya bukan anti menikah, saya bukan anti laki-laki. Tapi bisahkan kalian mengerti perasaan seorang perempuan single diusia yang tak lagi remaja, perasaan seorang gadis yang teman sebayanya sudah banyak menimang bayi…????? Saya ingin sekali seperti kalian yang tanpa terbata bisa mendeskripsikan pernikahan, cinta dan pasangan hidup. Tapi sayangnya, tak ada satu katapun keluar.

Ibarat mimpi -mimpi dalam kehidupan itu tertuang dalam sebuah buku, misal : buku tentang “study”, buku tentang “persahabatan”, buku tentang “karier”, buku tentang “cita-cita”, mungkin hanya satu buku yang masih kosong…Buku itu bernama “pernikahan”, bukan tak ingin menulis di dalam buku itu hanya saja, saya menjadi bingung ketika harus memulai menggoreskan kata. Jadi daripada frustasi dengan kekosongan yang ada,  alangkah lebih baik saya fokus pada tulisan-tulisan saya di buku yang lainnya.

Saya hanya tidak ingin menjadi frustasi, tidak ingin menjadi rapuh, dan tidak ingin menjadi orang menyalahkan takdir. Bagi saya kehidupan ini cukup sangat adil. Ketika hari ini saya belum diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikah, saya tidak melihat mereka yang sudah menikah. Saya justru melihat mereka yang sampai usia diatas 30-40 tahun masih dalam status single. Bukan karena mereka tidak mau menikah tapi Tuhan belum berkehendak. Mereka yang masih single itu bukan mereka yang berdiam diri di dalam rumah meratapi nasib, tapi mereka yang selalu tersenyum dengan kehidupan yang mereka jalani (meskipun tak seorangpun tahu apa yang sedang dirasakan sebenarnya), mereka yang selalu produktif dengan berbagai karya dan cita-cita. Mereka sadar bahwa hidup tak mungkin jika tak bicara cinta, pasangan dan pernikahan. Hanya saja mereka tidak ingin masalah itu menjadikannya lemah dan membuatnya tidak bersyukur dengan kehidupan. Mereka berusaha menerima takdir yang harus dijalani, diantara kawan-kawannya yang tersenyum bahagia dengan keluarga kecil masing-masing.

Saya hanya ingin mengatakan, hargai perasaan kami. Perasaan yang berusaha kami damaikan dengan senyum yang memilukan. Yang kami tahu, Kehidupan itu untuk dijalani bukan untuk dibahas. Biarkan mereka yang sudah menikah bahagia dengan takdirnya, dan yang belum pun tetap bahagia dengan apapun takdir yang harus dijalani.

#Masing-masing dari kita punya alur kehidupan yang tidak sama, Mengertilah…..

One thought on “Cinta dan Sebuah Takdir

  1. I’m Single and very happy.. yei yei..(Opie Andaresta) he he Sabar Insyallah yang terbaik akan datang. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memantaskan diri mendapatkan yang terbaik itu. Ada kata-kata yang sangat membekas dari salah seorang sahabatku yang menikah di usianya yang ke-29 tahun, “Menikah itu bukan sebuah prestasi, namun berprestasilah sebanyak mungkin sebelum menikah.” Keep spirit sista..^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s