Rindu dalam Doa


“Aku kuat dan tegar bukan karena aku yang luarbiasa. Tapi karena orang-orang disekitarku yang luarbiasa. Malaikat-malaikat tak bersayap yang selalu Tuhan kirim.”

Tak ada yang bisa saya bagi di awal bulan ini, kecuali kerinduan saya kepada kedua almarhumah orangtu saya.

Melihat catatan seorang teman di blognya 2 tahun silam, hanya airmata yang menjadi saksi atas semua hal yang telah terjadi.

Terimakasih kawan, catatan kecilmu selalu bisa menjadi obat rinduku kepada mereka. Dan tepat 100 hari catatan itu dibuat, ayah berpulang.


Repost from Hamdan’s Blog :

http://muhammadhamdan.wordpress.com/2008/09/15/mengantar-almarhumah/

“Kami mengenal almarhumah sejak kecil, dan selama itu kami merasakan keramahan dan kebaikan hati beliau…” suara pak RW tertahan. Isak haru seakan mencekik kerongkongan, membuatnya terdiam sesaat. Telapak tangannya bergerak perlahan menyapu pipi dan hidungnya yang basah memerah. “Kami merasa kehilangan…”
Pak RW mengambil nafas dalam berusaha menguasai diri. Jam menunjukkan pukul 13.20. Di ujung deretan kursi depan, air mata mengalir semakin deras dari mata suami dan anak bungsu yang ditinggalkan. Terik matahari bulan Ramadhan tak mampu mengeringkan hati para hadirin yang menjadi gerimis oleh kenangan bersama almarhumah.

Kami yang berderet di halaman rumah tidak melihat putri sulung sang almarhumah. Tapi kami bisa merasakan berat hati  Nida yang ditinggal sang ibu. Karena itulah pada pagi cerah Ahad 14 September 2008 itu, kami menempuh perjalanan 400 km menuju rumah duka. Sebuah rumah di gang kecil tempat  Nida dibesarkan oleh almarhumah.

Aku sendiri bertemu almarhumah setahun sebelumnya. Saat beliau menunggui suami di RS Kariyadi Semarang bersama ukhti Nida. Dengan sikap supel, beliau menceritakan Nida ketika di rumah, semasa SMA sampai masa kecilnya. Beliau membuat kami yang baru bertemu seakan telah lama bersama. Ketegaran mendapati sang suami terbaring di RS seakan terpancar dari kokohnya tembok keramik ruang perawatan. Di sanalah mereka merayakan lebaran kala itu.

Sampai berbulan-bulan kemudian, ayahnya menjalani perawatan rumah.  Nida pun sering pulang untuk membantu ibunya merawat sang ayah. Sampai suatu saat, kami mendengar kabar ibu  Nida masuk RS setempat sementara bapaknya masih perlu dirawat di rumah. Dari temen-teman yang menjenguk ke sana, kabarnya penyakit yang diderita ibu  Nida cukup kronis. Aku sendiri tidak ikut menjenguk, hanya beberapa kali tanya kabar lewat SMS ke Nida .

“Ane bersyukur, semua ujian ini datang setelah ane menjadi akhwat,” sepenggal SMS yang masih kuingat sampai sekarang. Dia bercerita, mbak-mbaknya selalu menasehati dan menguatkan dirinya. “…Entah apa jadinya jika semua ini terjadi sebelum ane bergabung dalam dakwah.”

Ketegaran yang ditunjukkan Nida juga tak kalah dengan yang pernah ditunjukkan ibunya. Dia menyaksikan pemakaman ibunda tercinta dengan menyandarkan kepala di bahu ayahnya. “Aku bisa tegar. Setidaknya sekarang. Entah nanti kalau kalian sudah pulang,” katanya ketika kami berpamitan.

Semoga  Nida selalu tegar. Seperti yang diperlihatkan ketika masih bermain bola voli di malam pekan olah raga antar fakultas, sebelum mau dipanggil ukhti. The life must go on, saudariku…

15 September 2008

—000—

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s