Surat Ibu dari Langit


“Aku tau tak mudah bagimu, tapi aku yakin segalanya akan menjadi baik. Percaya, Nak…”

Benar Ibu, minggu ini segalanya membaik. Beban dan segala kerumitan itu satu per satu hilang… Entahlah, aku memang tak bisa mendengar doa dan nasehatmu. Tapi aku selalu yakin, senyummu selalu terukir di langit…diantara senja, menenangkanku seraya berbisik “Esok kau kan temui hari yang jauh lebih baik dari hari ini, Percaya Nak…”

—-000—-

Anakku Sholeha,

Tuhan tidak pernah tidur Nak…

Apakah mungkin Tuhan akan membiarkan hambaNYA menderita sedang Tuhan itu Maha Penyayang, Maha Pemurah, dan Maha Pemberi Pertolongan…

Nak, terkadang hujan diciptakan agar kita mampu untuk bersabar…

Bersabar untuk sejenak diam. Air hujan itu bisa jadi turun untuk membersihkan kotoran di jalan yang akan kau lalui nanti, menumbuhkan bunga-bunga yang akan tumbuh di hatimu, menyegarkan embun yang menetes di jiwamu.

Jangan kau mengeluh ketika ujian dan cobaan menghujani hidupmu Nak…Dibalik gemuruh, pastikan selalu kau selipkan lantunan doa yang menghantarkan kedamaian. Petir terkadang kita butuhkan, agar kita sadar bahwa kita ini hanya manusia biasa yang selalu butuh pengingatan.

Jadi, bersabarlah kau selalu dalam hujan Nak…

Nak, terkadang pelangi diciptakan agar kita mampu untuk bersyukur…

Bersyukur meskipun pelangi kita tak seindah pelangi milik orang lain. Bukan seberapa indah pelangi yang mampu kita buat, Tapi yang terpenting bagaimana pelangi yang kita buat itu mampu membuat kita selalu berucap “Tuhan, terimakasih atas kehidupan yang KAU berikan padaku hingga detik ini.”

Karena bisa jadi diluar sana, ada orang yang bahkan tak mampu merangkai sebuah warna pun untuk membentuk pelangi.

Jadi, bersyukurlah kau dengan apapun warna pelangi yang kau miliki Nak…

Nak, terkadang mentari dan kemarau diciptakan agar kita mampu untuk ikhlas…

Ikhlas meskipun panas dan kering seolah menyesakan nafasmu. Tak mudah bicara ikhlas Nak, seperti kita sedang berjalan merangkai kehidupan yang diterpa panas yang menyengat. Rasanya tidak mudah untuk bisa bersahabat dan tetap tersenyum dalam peluh yng bercucuran. Tapi kau harus mampu dan bisa untuk tidak selalu mengeluh. Dengan Ikhlas, kau akan mampu merasakan semilir angin yang berhembus dalam terik panas yang sedang kau rasakan. Karena keluhan hanya akan menjadikan tubuhmu tak mampu merasakan nikmat semilir angin yang berhembus.

Dalam kemarau kau akan menemukan mata air palsu dimana2, Itulah kehidupan sebuah fatamorgana. Oase yang sesungguhnya ada di dalam hatimu. Hati yang Ikhlas, yang selalu berserah diri pada Tuhan yang Maha Kuasa.

Jadi, Ikhlaslah kau dengan segala peluh yang bercucuran, agar kau mampu merasakan oase kesejukan yang sesungguhnya Nak…

Nak, hidup itu juga butuh sebuah jeda, sebuah perenungan, sebuah doa…

sebuah ruang untuk kita agar lebih dekat dengan Dzat yang menciptakan kita.

Ibu akan selalu menemanimu dalam ruang jeda itu,

Nak, kau tak pernah sendiri… kami selalu disini, merangkai doa untukmu… Selalu….

Dalam Senja, kau akan menemukan ruang itu…

sebuah jeda, agar kau beristirahat sejenak dalam doa dan muhasabah

agar esok kau mampu optimis melanjutkan harimu yang indah

hari yang selalu lebih baik dari yang lalu…

Percaya Nak…

Kau tak pernah sendiri, lihat malaikat-malaikat yang Tuhan kirimkan untukmu..

Lihat sekelilingmu, mereka tersenyum padamu… menguatkanmu, menyemangatimu, Selalu…

Ingat Nak, bahwa kehidupan bukan hanya tentang kita

tapi kehidupan ini juga tentang mereka…

Nak, kami menunggumu disini…

Jadilah Mentari yang mampu menyinari kami disini, dan dengan mentari itu kau mampu menjadikan kita berkumpul lagi kelak…

di sebuah tempat terindah yang Tuhan siapkan untuk kita…

Percaya Nak, Tuhan tidak pernah tidur ^_^

Salam sayang selalu…

Ibu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s