Every Child is Special


Celotehan anak-anak kini menjadi pemandangan baru bagiku,

Praktis sudah 3 minggu kini aku berhadapan dengan dunia pendidikan anak usia dini…

Tak pernah terbayang, tapi sangat mengesankan,

Amazing ^^

Sedikit banyak ada hal baru yang aku dapat dari dunia baru ku ini,

bahwa “Setiap anak itu Istimewa…”


Ternyata dunia anak tidak bisa disepelekan dan dikesampingkan, ketika masih banyak orang tua yang mengganggap pendidikan usia dini itu bukan sebuah pendidikan formal yang penting. Atau ada sebagian orang tua yang terlalu mementingkan kecerdasan “konvensional” dengan mengesampingkan bakat dan potensi yang anak punya. Sains menjadi momok bagi orang tua, bahwa ketika anaknya tak mampu mengerjakan deretan angka maka dia dianggap gagal dalam belajar. Atau ketika ada seorang anak yang hiperaktif dan tak bisa diam maka dia dianggap “anak bandel”.

Saya mempunyai sebuah referensi film yang sangat bagus untuk membantu kita memahami dunia pendidikan anak.

“Taare Zameen Par’s / Like Stars on Earth ” – Producer and Director by Aamir Khan

Inti dari pesan film ini tak jauh berbeda dengan film sebelumnya yang sempat booming “3 Idiots” yaitu bahwa setiap anak memiliki kecerdasaannya masing-masing, tak bisa disamakan. Bahwa pola pengajaran dalam dunia pendidikan tak serta merta harus diukur dengan nilai saja, bahwa Kecerdasan setiap anak bersifat majemuk.

Dceritakan disini,

Ishaan Nandkishore Awasthi (Darsheel Safary) adalah seorang anak berusia delapan tahun yang tidak menyukai sekolah. Setiap pelajaran dirasakan sulit baginya dan ia terus-menerus gagal ujian. Guru dan teman sekelasnya menjadikan Ishaan sebagai bahan penghinaan. Di sisi lain, Ishaan memunyai dunia yang penuh keajaiban yaitu negeri ajaib penuh dengan warna dan binatang animasi. Seni, meskipun tidak ada yang menyadari hal ini pada awalnya. Jadi, sebenarnya dia adalah seorang anak yang pandai namun cara belajarnya tidak sama dengan anak-anak lainnya, dia berfikir diluar kebiasaan anak kebanyakan. Contohnya begini, ketika dia disuruh menulis sebuah kata maka dia akan menulisnya terbalik, kata yang seharusnya “book” dia tulis “koob” praktis gurunya mengganggap semua jawabannya salah, dan ketika dia melihat deretan angka maka yang keluar dari pikirannya adalah sebuah imajinasi yang luarbiasa, semua angka seolah melayang-layang, contoh ada soal 9 x 3 =….  seharusnya jawabannya adalah 27. Tapi ketika dia membaca soal tersebut imanjinasi dalam pikirannya adalah sebuah gugusan tata surya dimana ada planet yang bertuliskan angka 9 sedang bertarung dengan planet yang bertuliskan angka 3, ketika kedua planet ini ditabrakan maka yang menang adalah planet yang bertuliskan angka 3. Dan yang muncul adalah 9 x 3 = 3

Well, dia bukan bodoh tapi cara belajarnya menggunakan imajinasi bukan hafalan dan logika. Tapi sayangnya dari pihak Sekolah dan keluarga tidak ada yang menyadari dan mengganggap dia bodoh. Padahal dia hanya membutuhkan cara belajar yang berbeda…

Kondisi di rumah, Ayahnya, Nandkishore Awasthi (Denis Sharma), adalah seorang eksekutif sibuk yang sukses dan mengharapkan yang terbaik dari anak-anaknya. Ibunya, Maya Awasthi (Tisca Chopra), adalah seorang ibu rumah tangga yang frustrasi oleh ketidakmampuannya untuk membantu Ishaan. Di sisi lain, Kakak Ishaan’s Yohaan (Sachet Engineer) adalah seorang pelajar yang sukses. Setelah mengetahui kondisi masalah Ishaan, orang tua Ishaan memutuskan bahwa anaknya harus dikirim ke sekolah asrama.

Di Asrama, Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan) ditunjuk sebagai guru seni sementara. Tidak seperti guru-guru lain yang mengikuti norma-norma yang ada dalam mendidik anak-anak, Ram membuat mereka berpikir keluar dari buku-buku, di luar empat dinding kelas dan imajinasi mereka. Setiap anak di kelas merespon dengan antusiasme yang besar kecuali Ishaan. Ram kemudian berusaha untuk memahami Ishaan dan masalah-masalahnya. Dia membuat orang tua dan guru Ishaan lainnya menyadari bahwa Ishaan bukan anak yang abnormal, tetapi anak yang sangat khusus dengan bakat sendiri. Dengan waktu, kesabaran dan perawatan Ram berhasil dalam mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Dia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah pelajarannya dan kembali menemukan kepercayaan yang hilang.

Diketahui bahwa Ihsaan menderita disleksia, yaitu gangguan belajar yang dialami anak dalam hal membaca dan menulis. Anak dengan disleksia melihat tulisan seolah campur aduk, sehingga sulit dibaca dan sulit diingat. kalimat seperti, “Liburan sekolah tahun lalu Andi ikut ayah ke kampung halamannya” akan terlihat oleh anak-anak ini: “Liran sekah tan llu ndi it Aah ke kaung halanya” atau “LiburansekolahtahunlaluAndiikutayahkekampunghalamannya”.

Hal ini pertama kali disadari oleh Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan), seorang guru pengganti untuk mata pelajaran kesenian yang juga masih aktif membina di sebuah sekolah khusus anak-anak yang menderita keterbelakangan mental. Dan berkat penjelasan si Pak Guru Ram ini pula lah saya baru mengetahui bahwa dulunya Albert Einstein, da Vinci dan Picasso adalah penderita disleksia.

Namun berbeda dengan guru Ihsaan yang lain yang menganggap Ihsaan memiliki kekurangan yang sangat sulit untuk diperbaiki, Ram malah menganggap disleksia yang diderita Ihsaan adalah sebuah kelebihan yang hanya sedikit orang yang memilikinya, yaitu kemampuan yang mengakibatkan penderita disleksia memiliki kemampuan memahami ruang (spasial) lebih hebat dibanding orang normal. Penderita disleksia lebih mudah memahami informasi-informasi dalam bentuk tiga dimensi–pemahaman seperti ini sangat penting dalam kemampuan artistik seseorang.

Ini terbukti ketika Ram mengunjungi kediaman keluarga Ihsaan, dia mendapati hasil karya seni yang pernah di buat oleh Ihsaan, yang kebanyakan berupa gambar dan lukisan abstrak. Kemudiaan Ram meutuskan untuk meberikan perhatian khusus kepada Ihsaan, hal ini tidak lepas dari pengalamnnya yang juga pernah menderita disleksia. Dia tidak ingin membiarkan bakat dan kemampuan Ihsaan hilang begitu saja karena kurangnya kepercayaan diri yang dimiliki oleh Ihsaan. Sebagaimana judulnya Taare Zameen Par (Like Stars on Earth, Stars on Earth, atau Stars on the Ground).

Berkat keyakinan kuat dan kemampuan serta pendekatan yang berbeda, Ram berhasil mengembalikan kepercayaan diri Ihsaan untuk kembali melukis, bahkan berkat bimbingan khusus yang diberikan Ram, Ihsaan akhirnya mampu menulis dan membaca secara normal. Bahkan lukisan Ihsaan terpilih menjadi cover buku tahunan disekolahnya.

Trailer Filmnya,

http://www.youtube.com/watch?v=-kj52bQ4I08

Pesan moral yang dapat diambil oleh Orang tua dan Guru sebagai Pendidik adalah,

1. Every Child is Special bahwa Setiap anak adalah istimewa,

2. Selama proses pendidikan dan kehidupan, biarkan dia menjadi diri sendiri,

3. Jangan menjadikan kesuksesan dan posisi dalam masyarakat menjadi patokan. Biarkan berkarya sesuai dengan dirinya sendiri karena bakat dan kemampuan seseorang itu berbeda-beda.

4. Orang tua harus tahu kondisi perkembangan anaknya. Jangan terlalu memaksakan kepada anaknya.

5. Setiap anak adalah pahlawan selain itu membantu kita melihat seorang anak dalam diri kita sendiri.

6. Tidak ada manusia yang sempurna tak peduli apa posisi dia dalam masyarakat, setiap anak dengan kemampuan mereka adalah khusus dan berbakat dengan cara mereka sendiri. Film ini bukan hanya tentang penderitaan anak disleksia tetapi juga tentang bagaimana orangtua terbawa oleh perkembangan dunia saat ini dan gagal untuk memahami mimpi anak mereka dan mengembangkan bakat bawaan mereka.

7. Bahwa guru sebagai pendidik pun harus mengetahui latar belakang siswanya, bahkan sampai pada proses persalinannya, apakah dulu normal atau cesar. Ini untuk mengetahui apakah siswa memiliki kecenderungan bawaan khusus yang mampu mempengaruhi kecerdasaannya.

8. Bahwa by Design pendidikan itu adalah untuk pembentukan pribadi yang Insan Kamil, tidak hanya kecerdasaan IQ, tapi bakat dan  potensi, EQ dan yang terpenting adalah Akhlak. Pendidikan Berkarakter. Ketika banyak sekolah menawarkan Keunggulan Sains dan IPTEK maka mari kita membuat sekolah yang menawarkan Pendidikan berbasis Ahklak dan Potensi Bakat Anak. Tidak harus hanya Sains dan IPTEK, ada Bahasa, Seni, Olahraga, dan Agama yang utama. Ingat, Anak memiliki Kecerdasan yang majemuk yang tidak bisa disamakan dan dipaksakan.

“Hanya sedikit anak-anak yang tidak mengalami perasaan takut, gelisah, dan ketegangan selama masa mereka di sekolah, yang tidak akan tertahankan oleh kebanyakan orang dewasa sekalipun. Sama sekali bukan kebetulan kalau dalam mimpi buruknya, orang dewasa bermimpi kembali ke sekolah.” How Children Fail, John Folt

Membuat Sekolah dan Rumah adalah tempat paling nyaman bagi anak. Agar ketika mereka dewasa nanti, yang akan tersimpan dalam otaknya adalah sebuah memory yang baik. Nantinya mereka tidak mengalami trauma mental yang akan membekas sampai mereka dewasa.

Inilah duniaku sekarang,

Belajar dari mereka…Anak-anak Istimewa ^^

4 thoughts on “Every Child is Special

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s