Satu Detik Kehidupan


“Terimakasih Tuhan atas Kehidupan yang telah KAU anugrahkan untukku, sampai detik ini!”


Pernahkah kalian membayangkan berada di langit, duduk di awan dan melihat ke bawah…

Ya, aku pernah membayangkan itu…

Mungkin kalian mengira itu khayalanku semasa kecil, karena itu tak mungkin terjadi.

Sayangnya tidak, aku membayangkan hal itu ketika usiaku 17 tahun.

Ya, umur yang cukup dewasa untuk membedakan mana realita dan khayalan…

Ini bukan tanpa sebab, ini bukan karena halusinasi dongeng…

Pernahkan kalian berfikir tentang satu perihal,

bahwa, ” Di satu detik waktu ada triliyunan kisah terjadi…”


Aku yakin bahwa disaat aku sedang menulis cerita ini, diluar sana mungkin saja ada orang yang sedang menangis, tertawa, bahagia, sedih, bahkan sedang merasa gagal atau sedang menorehkan prestasi luar biasa.Didetik ini juga ketika aku masih menatap layar didepanku mungkin saja Ada anak kecil yang sedang menangis meminta dibelikan mainan oleh ibunya, atau seorang Ayah yang sedang duduk diteras rumah menunggu anaknya pulang dari bermain bola di sore hari, dan masih banyak lagi…

Bagiku, “Satu manusia, Satu Cerita, dan Satu Kehidupan”

Hal ini yang dulu membuatku ingin duduk di atas awan dan melihat ke bumi… Melihat banyak cerita, bayangkan saja hanya dalam waktu satu detik saja… aku akan melihat milyaran cerita, milyaran pesan kehidupan…

Di satu detik itu kau akan mampu berucap,

“Terimakasih Tuhan atas Kehidupan yang telah KAU anugrahkan untukku, sampai detik ini!”

Ada sebuah perasaan yang begitu membahagiakan, ketika disuatu waktu ketika aku sedang berada didalam gerbong kereta, aku melihat satu per satu penumpang. Ada yang sedang tertidur pulas dengan mimpinya, ada yang sedang asik bermain ponsel, berbincang, ada yang sedang menikmati pemandangan di luar kereta, bahkan ada anak kecil yang sedang bercakap dengan ibunya.

Bagiku, inilah kehidupan. Benar, bahwa dunia tak selebar daun kelor. Kita tak boleh seperti tumbuhan di dalam pot yang hanya melihat kehidupan sebatas pekarangan rumah saja.

Lihatlah keluar sana, Kehidupan bukan hanya tentang diri kita saja. Tapi tentang banyak hal.

Ketika kau merasa putus asa oleh hidupmu, cobalah sekali-sekali kau pergi ke Taman atau tempat keramaian lainnya…

Lihat dan amati sekitarmu, dan rasa putus asamu akan hilang dan lenyap sekita…

Rasa itu akan berubah menjadi senyum ketika kau melihat tingkah polah dan celotehan anak kecil yang polos…Rasa itu akan berubah menjadi haru ketika kau melihat seorang nenek tua renta duduk di pinggir jalan, dan kau akan berucap “Kemana anak kandung nenek itu?”

Rasa itu akan berubah menjadi bahagia ketika kau melihat seorang anak laki-laki yang berhasil menendang bola ke gawang lawannya, karena kau ikut merasakan kemenangan itu.

Rasa itu akan berubah menjadi kekaguman ketika kau melihat seorang pengamen bersuara tak kalah bagusnya dengan Sandi Sandoro, atau seorang pelukis jalanan dengan karyanya, atau bahkan kagum dengan seorang tukang becak yang sedang mengayuh dengan beban yang mungkin lebih dari 200 kg. Atau seperti yang tadi sore baru aku lihat, Ada seorang Ibu yang sudah pantas dipanggil nenek dia sedang mendorong gerobak kecil berisikan jerigen air berjumlah 8 buah. Aku saja belum tentu sanggup melakukan itu.

=== Lihatlah segalanya lebih dekat maka kau akan mengerti dan melihat lebih bijaksana ===

Dan sampai detik ini aku masih berkhayal tentang hal itu,

Duduk di atas awan dan melihat triliyunan kisah di satu waktu…

Seketika penat, kesedihan, dan kesusahan hidupmu akan lenyap, dan berganti senyum…

kau akan tersenyum pada Tuhan dan untuk kesekian kalinya kau akan berucap,

“Terimakasih Tuhan atas Kehidupan yang telah KAU anugrahkan untukku, sampai detik ini!”

Mau Mencoba, Silahkan menikmati ^_^

One thought on “Satu Detik Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s