Hope so, I Can…


“Ketika jalan untuk berlari terhampar begitu luas, tapi Kaki ini lagi-lagi tercekat pada sesuatu… Bertahan!!! Biarkan yang lain telah jauh berlari, terbang tinggi, dan melesat cepat. Nikmati saja Hidup meski harus terseok dalam hamparan pasir…”

Paranoid,

Entahlah, rasanya trauma ini tidak akan pernah bisa sembuh…. Dulu aku tak sepenakut ini menghadapi hidup. Hingga suatu saat aku pernah berucap di depan mereka dengan isak tangis yang tercekat, “Andaikan semua orang menyalahkan dan tak suka padaku, Aku tak peduli…Karena yang terpenting bagiku adalah kalian, yang selalu mampu mencintaiku tanpa syarat, yang akan selalu memberiku segalanya tanpa meminta balasan apapun.”

Dan kehilangan kalian adalah sebuah trauma sendiri bagiku, Kenapa harus bagian terpenting dari hidupku yang diambil, kenapa bukan yang lain?

Seperti seseorang yang kehilangan tameng untuk bertahan, rapuh, gampang menyerah, takut, dan pesimis.

Ketika banyak orang bicara dengan begitu fasihnya tentang mimpi, cita-cita dan harapan. Aku tak pernah berani bericara tentang hal itu lagi, lebih dari sekedar pesimis tapi ada trauma KEHILANGAN yang sangat memilukan. Aku takut kehilangan mimpi dan harapan itu lagi, lebih baik tidak bermimpi dan berharap apapaun.

Dulu ketika aku bertemu kegagalan dan kehilangan, aku cukup menengok ke samping. Dan melihat seulas senyum dan sorot mata mereka. Itu sudah cukup membuat saya bangkit lagi, cukup untuk kembali mengumpulkan energi dan kembali tersenyum melanjutkan hidup.

Dan sekarang, tak ada siapapun disampingku…yang ada adalah pandangan-pandangan manusia yang tak bersahabat. Apapun yang aku lakukan selalu salah dimata mereka. Tak ada lagi yang selalu merasa bangga atas diriku, yang ada hanyalah persepsi negatif, selalu dianggap benalu.

Tuhan, aku tak meminta lebih…

Aku hanya ingin sandaran itu kembali, seulas senyum yang mampu mengurai bahagia, sorot mata yang mampu membangkitkan semangat, dan belaian kasih sayang yang mampu menenangkan gelisah.

Sederhana tapi Sulit….

Somethings wrong with myself, sepertinya otak ini salah mencerna maksud Kehidupan. Terkesan konyol dan kekanak-kanakan. Tapi hanya ini yang mampu terurai dari benang kusut yang memenuhi otaku saat ini.

Saat ini bekal yang aku punya hanya sebuah kata PERCAYA

Meskipun aku tak pernah pandai mencerna maksud Takdir Kehidupan, Ketika ini yang terbaik meskipun bagiku tak pernah merasa lebih baik malah semakin memburuk.

Percaya, Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan Maha mendengar, Tuhan Maha Melihat, Tuhan Maha Mengetahui…

Suatu saat Tuhan akan mengajariku bagaimana caranya mengeja dan mencerna Kehidupan ini dengan baik.

Hope so…I can…. Just Believe ^^

4 thoughts on “Hope so, I Can…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s