Indahnya Menutup Aurat


Ini adalah sepenggal kisah yang mungkin sering terjadi atau yang sering kita jumpai di era sekarang ini, era dimana budaya telah tercampuri dunia barat yang jauh dari nilai positif, terutama untuk kita kaum perempuan. Dimana dalam hal berbusana, jangankan perintah agama yang mewajibkan kita untuk menutup aurat, etika kesopanan budaya timur saja sudah banyak diabaikan dalam hal berbusana sekarang ini. Pakaian yg seharusnya untuk tidur malah dipakai untuk berpergian ke tempat-tempat umum, bahkan ke tempat formal seperti kampus dan kantor. Astagfirullohalaziim…Dimana Izzah kita sebagai muslimah, harga diri dan martabat kita sebagai perempuan. Tak heran jika sekarang ini marak terjadi pelecehan dan kekerasan pada peremmpuan. Menghargai diri kita dengan berpenampilan dan berperilaku yang pantas, yang sesuai tuntunan agama dan etika/norma. Dengan begitu kita pun akan dihargai oleh orang lain. Semoga cerita ini bisa menjadi ibroh untuk kita semua…kaum perempuan.

—000—

Setiap kali aku memandang cermin, berjuta perasaan bahagia menghujam hatiku. Aku melihat kecantikan atas diriku. Sementara ibuku, dia selalu berdiri menghalangi jalanku. “Rokmu itu ketat sekali. Blus itu lebih banyak memeperlihatkan anggota tubuhmu daripada yang ditutupinya. T-shirt ini sangat tidak sopan sekali!”

Aku merasa sangat benci sekali kepada ibu, terlebih peringatannya yang seolah tidak pernah berhujung. Kami sering kali perang mulut dalam waktu yang lama, tapi semua tidak ada faedahnya.

Sampai salah satu sahabatku memberikan solusi. Intinya, dia menyarankan diriku untuk memakai pakaian yang disukai ibu ketika hendak keluar rumah. Kemudian aku menggantinya dengan pakaian yanga aku suka ketika sudah berada di rumah temanku. Aku merasa permasalahanku selesai untuk selamanya. Kini aku dapat memakai rok mini, T-shirt dan segala sesuatu yang aku inginkan dengan tanpa harus bertengkar dengan ibu. Atau mendengar ucapan kolotnya yang tidak aku sukai, dimana ibu selalu mengatakan diriku telah melanggar syariat agama dan menyeleweng dari norma budaya.

Aku merasa bahagia dengan pesona diri yang bertambah setiap kali berada di  suatu tempat yang menjadi tujuanku. Para pemuda saling bersaing untuk memberikan perhatian cinta mereka kepadaku. Aku sangat merasa bangga sekali dengan kecantikanku. Sudah pasti kecantikanku semakin menawan dengan pakaian yang aku kenakan. Aku berharap dapat bersanding dengan pemuda idamanku. Aku membuatnya merasa kagum dengan kecantikan yang aku miliki dan kelembutanku yang memikat.

Di saat yang sama aku merasa kagum dengan seorang asisten dosen di kampus. Seolah aku tidak percaya pada diriku sendiri ketika suatu hari dia memanggilku setelah perkuliahan. Aku pun menemuinya. Aku tidak mampu menyembunyikan rasa bahagiaku. Tapi kemudian dia mengajukan pertanyaan yang sangat aneh sekali.

“Kapan keluargamu pulang dari luar negeri?”

Aku berbisik dan meyakinkan dirinya bahwa aku tinggal bersama keluargaku. Mereka tidak pernah pergi ke luar negeri. Kemudian dia berkata lagi,

“Jadi, bagaimana mungkin mereka membiarkan dirimu seperti ini?” Katanya sambil menunjuk pada pakaianku. Kemudian dia menimpali dengan perkataan-perkataan yang tidak aku sukai. Ucapannya benar-benar bagai sambaran petir bagiku. Dengan penuh emosi aku berkata keras kepadanya, “Siapa yang memberi hak kepadamu untuk berbicara seperti ini kepadaku?” dan aku segera pergi meninggalkannya.

Setelah kejadian itu, untuk beberapa hari aku berdiam diri di rumah. Aku tidak ke kampus dan tidak pergi ke tempat manapun. Sampai akhirnya kakak perempuanku yang sudah menikah datang mengunjungiku. Seperti biasa dia mampu mengetahui segala sesuatu tentang perasaaanku. Dengan sangat tenang dia berkata kepadaku, “Aku sangat bisa memahami perasaanmu. Betapa penting bagimu untuk bisa mengekspresikan kecantikan dan keistimewaan yang engkau miliki. Akan tetapi semua itu tidak harus mengorbankan martabatmu, harga dirimu dalam pandangan orang lain dan sikap menghormati dirimu sendiri. Seharusnya engkau berterima kasih kepada asisten dosen itu atas kejujurannya kepadamu. Dia telah berani mengucapkan kepadamu perkataan yang tidak mampu di ucapkan oleh orang lain.”

Untuk meyakinkan diriku, kembali kakak menambahkan,”Seorang gadis yang mempunyai kepribadian teguh tidak akan melakukan perbuatan yang memalukan dirinya sendiri. Jika engkau percaya diri dengan pakaian yang engkau kenakan, maka kau harus mengenakannya di hadapan keluargamu saja. Tapi, coba katakan kepadaku. Apakah engkau takut dengan keluargamu? Atau takut kepada Tuhanmu yang telah menetapkan batasan-batasan pasti dalam berpakaian? Coba kau pikirkan itu?”

Akhirnya selang beberapa waktu, aku mulai memahami perkataan ibu, asisten dosen dan kakaku itu. Aku mulai memutuskan hubunganku dengan sahabatku yang pernah memberi solusi yang salah. Dan sekarang aku telah mengetahui jalanku dan selamanya aku tidak akan kembali ke jalanku yang dulu.

—000—

“Katakanlah (olehmu Muhammad), kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suaminya, bapaknya, bapak dari suaminya, puteranya, putera dari suaminya, saudaranya, putera dari saudara laki-lakinya, putera dari sadara perempuannya, perempuan muslim (lainnya), hamba sahaya yang mereka miliki, pelayanan yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan, dan janganlah mereka memukulkan kakinya (ke bumi) agar diketahui perhiasan yang tersembunyi (pada kakinya itu), bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar mendapat keberuntungan.”(An-Nur:31)

 

One thought on “Indahnya Menutup Aurat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s