Cermin dan Realita


Sebuah cerita yang disadur dalam sebuah buku karya Najla Mahfuz “La Tahzan for Girl”. Sebuah pesan untuk kita kaum perempuan, bahwa yang terpenting bukan paras yang cantik tapi sebuah kepribadian yang cantik. Bukan bagaimana kita menuntut kehidupan untuk selalu memberikan yang terbaik untuk kita karena mungkin kita “merasa” adalah perempuan yg “terbaik” menurut versi kita sendiri, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita memberikan yang terbaik untuk kehidupan meskipun kita bukan manusia yang terbaik. Menjadi sederhana tapi kita mampu melakukan yang terbaik untuk kehidupan. Bukan merasa yang terbaik tapi selalu menuntut pada kehidupan.

—000—

Aku akui, aku sering merasa gelisah bahkan terkadang marah juga setiap kali mendengar kabar pertunangan atau pernikahan teman-teman yang aku kenal.

Aku tidak memperdulikan -pada waktu itu- tentang perasaan seperti itu. Apakah itu baik atau buruk. Dengan segenap rasa percaya diri aku merasa lebih cantik dibandingkan dengan teman-temanku itu. Akan tetapi tampak bahwa hidup melewati hari dan waktu dengan tanpa bisa menghargai kecantikanku.

Aku masih sering menyesali diriku sendiri dan menangis sendirian. Perasaanku sering merasa tersakit ketika mendengar ucapan ibu yang acap kali menyayangkan nasibku, meskipun aku seorang gadis yang memiliki paras yang cantik.

Aku coba mengusap air mataku. Aku tatap diriku sendiri di cermin. Dan tampak diriku sangat cantik. Aku coba tenangkan diriku dan tetap bersabar. Kebahagiaan itu -sudah barang tentu- pasti akan datang, bersama seorang pengantin pria idaman yang akan menyuntingku.

Ketika aku berjalan aku perhatikan pandangan-pandangan penuh kekaguman tampak mengelilingiku. Kemana aku pergi pasti aku akan kembali dengan rasa percaya diri yang bertambah.

Dari waktu ke waktu, bibi juga selalu menasehati diriku agar banyak membaca untuk mengembangkan pengetahuanku. Tapi aku malah sering tertawa meremehkan nasehat bibi itu. Sebagaimana bibi juga sering berkata “Dalam mencari pendamping kaum lelaki masih belum merasa cukup hanya dengan gadis yang cantik saja. Meskipun kecantikan gadis itu telah membuat mereka tergila-gila. Tapi, selain paras… mereka mencari gadis yang berkepribadian cantik pula. Karena paras cantik lama-kelamaan akan membosankan jika dipandang mata. Berbeda dengan kepribadian yang cantik, ia akan semakin tumbuh matang pada diri seorang gadis sampai dia menjadi seorang nenek. Demikian juga seorang wanita, dia tidak bisa mendidik anak-anaknya dengan mengandalkan kecantikan parasnya saja. Tapi, dia harus memiliki kesadaran dan kepandaian. Selain itu, dia juga harus mempunyai pengetahuan yang luas agar dapat meraih kesuksesan berumah tangga saat menjadi seorang isteri dan seorang ibu.”

Mendengar nasehat itu aku malah tertawa keras sambil berucap kepada bibi “Masih belum cukupkah kecantikan ini? Lihatlah rambutku yang indah, parasku yang cantik dan tubuhku yang ideal.”

Pernah suatu ketika aku menolak lamaran seorang pria hanya karena aku tak suka. Sampai seorang teman menasehatiku “Tidak semestinya engkau menerima tamu dirumahmu dengan sikap kasar seperti itu. Seolah engkau telah menghardik mereka, sedangkan mereka bermaksud mengajukan lamaran pernikahan kepadamu. Sungguh tidak bijak sekali ketika engkau mengusir seorang pelamar agar dia membatalkan lamarannya.”

Aku sangat marah kepada temanku, karena nasehatnya penuh dengan iri hati (menurutku). Aku tinggalkan dia dan beranjak pergi. Hampir saja aku memaki temanku itu, tapi kemudian aku bertanya dalam hati,”Apakah aku mencacinya karena dia sudah menikah dan mempunyai anak? Sementara aku, seorang tunanganpun masih belum punya?” Aku urungkan niatku untuk mencaci dia, karena sebenarnya dia bermaksud baik padaku. Sebagaimana dia sendiri tidak menikah dengan seorang lelaki kaya raya. Tapi dia lebih memilih dengan seorang pemuda biasa. Dia juga hidup dengan sederhana, sesuai dengan kecantikan parasnya yang sederhana.

Sedangkan diriku, seperti biasa. Setiap kali aku merasa gelisah, aku segera bergegas ke depan cermin untuk menenangkan hatiku. Cermin itu mengatakan sebuah realita, tidak hal yang lain. Bukan begitu?

—000—

Ini adalah sebuah kisah yang menceritakan kesalahan yang sering diabaikan oleh perempuan. Terkadang kita merasa bahwa kita adalah perempuan terbaik -padahal itu hanya versi kita sendiri- terbuai dengan kelebihan yang kita miliki. Akhirnya sikap ini membuat kita menuntut terlalu banyak pada kehidupan, pada karier, hubungan sosial dan bahkan jodoh. Semua dituntut harus serba satu level dengan kita. Hanya karena kita berpendidikan tinggi, berlatar belakang mapan, dari keluarga terpandang, berparas cantik dan bertubuh ideal. Kemudian kita menuntut kehidupan harus memberikan semua yg sesuai keinginan kita. Jenjang karier yg tinggi, teman dan rekan yang satu level, dan jodoh yang setara dari bibit, bebet, dan bobot. Padahal mungkin apa yang kita punya adalah sebuah anugrah semata, kita mungkin belum memberikan yang terbaik untuk kehidupan. Ingat, mungkin kelebihan itu pemberian dari Tuhan, jadi bukan sebuah keistimewaan yg kemudian menjadikan kita berhak menuntut apapun, berbuat sesuka kita pada kehidupan. Karena memiliki kelebihan atau tidak, kewajiban kita adalah memberi yg terbaik untuk diri kita, teman, sahabat, dan orang lain. Berbuat baik itu pilihannya.

Terutama urusan jodoh, ketika kita ingin mendapat jodoh yang terbaik, maka jadilah perempuan yang terbaik. Ingat Surat An Nur ayat 26 Bahwa Perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik begitu sebaliknya. Bukan kita menuntut mendapatkan yang terbaik hanya karena kita sudah merasa yang terbaik, tapi kenyataannya kita belum melakukan apapun. Semoga kita bisa menjadi Perempuan terbaik yang selalu melakukan kebaikan. Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah “Wanita Sholeha”.

Good luck for all

Be the best ^^

One thought on “Cermin dan Realita

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s