Bahagia itu Milik Kita


“Life is full of surprises and full miracle.”



Pagi ini, ponsel di hapeku berdering…ternyata adek lelakiku satu-satunya menelepon dari rumah. Ya, kami hanya hidup berdua sejak dua tahun yang lalu. Tapi kami tak tinggal satu kota. Aku merantau di kota lain, sedang adeku tinggal dirumah, di kota tempat kami dilahirkan.

Saya tahu ini tidak mudah bagi kami, apalagi untuk adeku yang jauh dari usia dewasa. Di umurnya yang baru menginjak remaja. Dia harus bisa hidup mandiri dan sendiri. Saya bisa membayangkan dan merasakan, kegelisahan, kesepian dan kejenuhan hari-harinya ketika dia pada posisi yang labil.

Pagi ini dia bercerita tentang permasalahannya, bahwa ada rasa jenuh tingkat tinggi, ke-boring-an yang memuncak, pada akhirnya dia merasa kesepian…dan tidak bahagia.

Tidak Bahagia….Sendiri…Kesepian…

Tidak hanya adek, saya atau semua orang pun terkadang ada pada posisi ini.

Tapi apakah hidup ini Adil? jawabanya adalah Ya.

Sendiri bukan berarti Kesepian, dan Bahagia atau tidak ini hanyalah masalah persepsi diri kita.  Sama seperti orang yang merasa sendiri di tengah keramaian atau malah kita adalah orang yang selalu merasa ramai di tengah kesendirian kita. Ini hanya masalah persepsi. Bahagia adalah bagaimana kita bisa mensugesti pikiran kita untuk tetap bahagia…

Lalu, dimanakah letak kebahagiaan itu?

Dan itulah kesalahan kita > kita terus mencari kebahagiaan itu sementara kita belum tahu di manakah dia berada.  Seperti seorang yang mencari rumput di padang pasir, begitulah kita yang mencari kebahagiaan tetapi tidak tahu di mana dia berada. Kesalahan kita adalah selalu mencari kebahagiaan padahal kita sebenarnya sudah memilikinya. Sekali lagi kita sudah memiliki kebahagiaan itu. Masalahnya adalah apakah kita sadar dan mau untuk menerima kebahagiaan itu? Mau menerima kebahagiaan berarti memutuskan untuk bahagia.  Kebahagiaan ada dalam diri kita.  Dia ada dalam hati kita, ada dalam pikiran kita. Dia tidak jauh dari kita. Maka kenalilah dia dan putuskanlah untuk merasa bahagia mulai dari sekarang.

Entah kenapa rumput tetangga alias pesanan orang lain selalu terlihat lebih enak….Saya pernah berbincang dengan seorang kawan, semua orang berhak menikmati hidup yang Tuhan sajikan, bukankah Tuhan tidak akan membuat susah hambaNYA. Jadi kenapa kita harus dibuat susah oleh diri kita sendiri, terjebak dalam sebuah persepsi yang malah justru membatasi kebahagiaan diri kita. Pernah suatu saat, ketika saya bertemu sebuah masalah dan dalam keadaan sendiri, saya merasa sangat kesepian. Dan merasa kenapa hidup begitu tidak adil? Kemana semua orang, ketika saya sedang jatuh terpuruk. Tapi, Tuhan masih sayang. DIA selalu mengingatkan saya dengan bahasa cintaNYA. Hidup ini akan selalu adil. Semua tergantung bagaimana kita melihat, dan dari kacamata siapa kita memandang hidup. Jika dari kacamata orang yang selalu bersyukur, maka hidup ini akan terasa indah. Bahagia…itu pasti. Tapi jika kacamata kita adalah milik orang pesimis, yang ada adalah kita selalu mengeluh dan menyalahkan takdir. Padahal Tuhan sudah banyak memberi kita nikmat.

Karena sebuah hal > setiap orang adalah berbeda dan unik dengan bahagia miliknya sendiri-sendiri. Tidak ada yang sama, bahkan untuk dua saudara kembar sekalipun. Jadi, yuk, kita belajar mencintai bahagia milik kita. Apapun itu. Diusia yang tak lagi muda dan belum menemukan jodohnya, mungkin.  Penghasilan yang hanya cukup dalam hitungan seminggu, mungkin. Penat dan lelahnya pikiran bergulat dengan penelitian atau pekerjaan yang seakan tidak berujung, mungkin. Keterpisahan sementara dengan orang-orang yang kita sayangi, mungkin. Atau kita adalah seorang mahasiwa tingkat akhir yang belum selesai padahal nominal semester hampir mendekati DO, mungkin. Yuk, kita belajar mencintai diri kita dengan bahagia kita sendiri.  Sesederhana apapun milik kita.

Ingat, terkadang sawah tetangga nampak lebih hijau. Padahal sawah kita sudah mulai menguning dan hampir panen. ^_^

Jadi bahagia itu ada dalam diri, pikiran dan jiwa kita.

Semua Orang Punya Hak untuk Bahagia. Karena Bahagia itu Milik Kita.

Good luck for all,

Don’t Judge Book from The Cover.

2 thoughts on “Bahagia itu Milik Kita

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s