Istana Dakwah


MUA begitu kami sering menyebutnya, Itu adalah singkatan dari Masjid Ulul Albab. Sebuah tempat yang memilki arti Rumah bagi orang yang berakal, memilki pikiran, perasaan dan hati. Namun bukan hanya sekedar memilikinya akan tetapi mau menggunakannya secara maksimal sehingga ia mampu mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas serta pandangan yang tajam terhadap sesuatu. Masjid ini berdiri dengan kesederhanaan dan kebersahajaannya di tengah kampus kami di Universitas Negeri Semarang.

Tempat yang bagi sebagian besar civitas akademika Unnes memilki makna tersendiri dan tempat dimana masing-masing punya kenangan spiritual yang berkesan. Alhamdulillah, Rumah Alloh ini tak pernah sepi di waktu-waktu sholat bahkan di waktu lainnya. Kami sebisa mungkin berusaha untuk selalu meramaikan dan menjadikan Masjid ini tempat segala peraduan bermuara. Para pegiat Dakwah begitu kami menyebut orang-orang yang mau peduli dengan kebaikan di jalan Alloh swt bahkan menyebut Masjid ini sebagai Istana Dakwah, sebuah Istana yang kemegahannya bukan karena wujud fisiknya tapi karena tempat ini lebih mulia dari pada istana kerajaan manapun. Dan bagi sebagian civitas akademika dijadikan rumah kedua dan tempat peraduan mencari ketentraman dan kedamaian hati.


Masjid ini tidak megah tapi kokoh, sederhana tapi menyejukan. Masjid ini terdiri dari tiga lantai. Lantai bawah atau Basement terdiri dari 3 bagian, di sayap sebelah kiri adalah tempat wudhu untuk akhwat. Di bagian tengah ada perpustakaan, ruang pertemuan dan ruang kesekretariatan Unit Kegiatan Kerohanian Islam. Di sayap kanan adalah tempat wudhu untuk ikhwan. Lantai dua adalah tempat sholat untuk jamaah ikhwan dan di Lantai 3 yang masih satu atap dengan lantai dua adalah tempat sholat untuk jamaah akhwat.

Begitu kiranya gambaran dari Masjid ini dan bagaimana saya bisa begitu terpikat dengan Istana Dakwah ini. Sebuah tempat yang begitu saya melihatnya seolah seperti memutar kembali slide-slide kenangan tentang kisah perjuangan, persaudaraan dan pembelajaran diri. Bahkan bukan hanya saya, semua yang pernah ke tempat ini akan selalu berkata hal yang sama. Tempat ini tak bisa dipisahkan dari perjalanan kami selama menimba ilmu di kampus ini. Tempat yang selalu menorehkan tinta emas di setiap periode masanya, yang telah melahirkan manusia-manusia luar biasa yang Insyalloh selalu istiqomah di jalan Alloh swt.

“Sebuah kisah masa lalu hadir dibenakku, Saat kulihat surau itu menyibak lembaran, Masa yang indah bersama sahabatku. Sepotong episode masa lalu aku, Episode sejarah yang membuatku kini, Merasakan bahagia dalam dien-Mu, Merubah arahan langkah dihidupku. Setiap sudut surau itu menyimpan kisah, Kadang kurindu cerita yang tak pernah hilang, Kenangan bersama mencari cahaya-Mu.” senandung lagu dari grup nasyid Edcoustic selalu mengiringi kenangan tentang Masjid ini.

Di tempat ini segala kisah telah terukir dengan indah dan manis. Ada alunan-alunan bacaan Al-Qur’an yang indah di setiap 15 menit sebelum Adzan berkumandang di setiap waktu sholat, Ada orang-orang yang sedari fajar terbit berkumpul di basement dan ruang-ruang pertemuan untuk berdiskusi tentang bagaimana mengajak pada kebaikan dan mencegah pada yang mungkar. Di sore harinya ada sekumpulan orang-orang yang menimba ilmu di majelis-majelis kecil sampai kajian skala besar. Dan di malam harinya tempat ini sering digunakan untuk melakukan Mabit dan ber Qiyamulail berjamaah.

Di Masjid ini saya mendapat proses pembelajaran diri. Saya masih ingat ketika suatu malam di acara mabit sebelum Ramadhan, kajian malam itu tentang kematian dan birul walidain. Ketika sang pembicara menyampaikan materi dengan sedikit bermuhasabah. Kami disuruh memejamkamkan mata dan membayangkan wajah kedua orang tua kita. Lampu sedikit dimatikan hingga cahaya menjadi temaram. Kami membayangkan wajah kedua orang tua kita, dan kemudian merenung apa saja yang sudah kita perbuat untuk mereka, kesalahan-kesalahan kami, pembangkangan, dan amarah kami yang sering sengaja atau tidak, sadar atau tidak sering kita lakukan pada mereka. Kemudian kami membayangkan seandainya di detik ini nyawa mereka atau nyawa kami yang di ambil oleh Alloh swt, sudahkah kita membalas kebaikan-kebaikan mereka yang tanpa pamrih. Ibu kita yang melahirkan, menyusui, membesarkan dengan taruhan nyawanya. Ayah kita yang dengan kerja kerasnya rela mengorbankan segalanya hanya untuk mencukupi kebutuhan kita, hanya demi melihat kita bahagia. Sudahkan kita berbakti? Sudahkah kita berterima kasih? Sudahkan kita meminta maaf atas segala kedurhakaan kita pada mereka? Meskipun tanpa diminta mereka sudah memaafkan kesalahan-kesalahan kita, jauh dilubuk hati mereka. Dan saya benar-benar menangis, mungkin ini pengalaman pertama saya menangis di dalam masjid dan benar-benar gemetar. Sampai waktu Qiyamulail tiba saya masih menangis, karena saya tau kesalahan, kekhilafan dan dosa yang tidak sedikit yang telah saya perbuat. Ini pengalaman pertama saya, menangis di dalam Masjid.

Dan ada lagi kisah tentang Ukhuwah/Persaudaraan dengan orang-orang yang senatiasa menyeru pada kebaikan. Orang-orang senantiasa tak pernah lelah mengingatkan saudaranya untuk tetap istiqomah, bahwa Dakwah itu tidak mudah, selalu ada rintangan, ujian dan pengorbanan. Bersama mereka kami mampu bertahan dan berjuang. Ada satu kalimat yang sering menjadi pengingat kami ketika kami ingin berjalan sendiri-sendiri.

Bahwa “Kejahatan yang terorganisir akan bisa mengalahkan Kebaikan yang tidak terorganisir/tercerai berai. Tapi Kebaikan yang terorganisir/bersatu pasti akan mampu mengalahkan kejahatan yang terorganisir pula.”

Setiap bulan Ramadhan tiba, Masjid ini selalu semarak dengan berbagai kajian dan ramai dengan orang-orang yang ingin beribadah. Suasana yang akan selalu dirindukan oleh siapapun yang pernah hadir di tempat ini di waktu Ramadhan. Rindu kajian-kajian dari pagi hingga sore, rindu membagikan ta’jil, rindu tilawah disana, dan yang sering banyak dirindukan adalah I’tikaf di tempat ini di Bulan Ramadhan. Bahkan tidak sedikit orang yang jauh datang dari luar kampus untuk bisa I’tikaf di Masjid ini.
Masjid ini selalu terbuka untuk siapapun, tak pernah membedakan apapun selagi masih dalam aqidah yang satu. Hanya Alloh swt Tuhan kami dan Rasulullah Teladan kami, Al Qur’an pedoman hidup kami. Inilah tempat yang akan mendekatkan kita pada Sang Pencipta, Sang Khalik pemilik alam semesta ini. Bersama CintaNYA yang selalu berkumandang merdu, mengajak kita pada kebaikan dan mencegah pada yang mungkar.

Masjid Kampus kami…Istana Dakwah kami…Masjid Ulul Albab Unnes kami…
Semoga senantiasa menorehkan tinta emas disetiap periode masanya. Dan melahirkan insan-insan mulia yang istiqomah di jalan dakwah ini… Amien. Insyallah.

One thought on “Istana Dakwah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s