Chapter Three – Kepakan Sayap Sang Kupu-kupu


 

 

 

 

 

 

 

 

Pagi ini Mentari bersembunyi di balik awan…Tak ada siluet jingga pagi hari, tak ada senyum mentari dan seleret cahaya besama kicauan burung di langit. Tadi malam cuaca tak bersahabat dengan alam, atau manusia yang sudah tak bersahabat sehingga alam menjadi marah. Entahlah…yang jelas padang senja begitu tampak mengerikan. Badai disertai hujan dan sambaran petir, mengguncang laut hingga ombak berguncang tak lagi ramah. Malam itu, aku tak mampu berfikir apapun. Hanya berdoa semoga tak terseret badai, atau tumbang karena tersambar kilat atau terhempas oleh air bah. Untung aku hidup di bawah pohon besar yang rindang, jadi badai hebat tadi malam tak lansung membuatku tumbang. Dan yang pasti Semua karena Kuasa Tuhan. Sehingga pagi ini dengan keadaan yang tak begitu baik aku masih bisa menyapa pagi di padang senja.

Dengan mata sembab, aku melihat sekelilingku berharap ada sedikit cahaya pagi ini…minimal untuk sedikit membuat badanku kembali hangat dan segar. Tunggu…Aku melihat sesuatu di bawah ranting pohon besar yang selama ini menaungiku. Benda itu berbentuk bulat lonjong tak beraturan, warnanya hitam seperti kumpulan daun kering dan bergelantung. Tiba-tiba benda itu bergerak-gerak, benda yang aku pikir itu daun kering pun mulai rontok dan sedikit demi sedikt pecah. Ternyata ada sesuatu di dalamnya, berwarna biru kehitaman seperti kertas. Dan hanya dengan hitungan detik, benda itu pecah dan berganti sesosok makhluk cantik berwarna biru yang dapat terbang. Sosok itu turun menghampiriku dan dengan lembut menyapaku.

“Selamat Pagi, ”

“Selamat Pagi, Kau ini apa?” tanyaku

“Aku Kupu-kupu, aku baru saja lahir dari kepompong itu.”

“Aku Ilalang, kau lahir dari kumpulan daun kering yang bergelantungan itu?”

“Itu bukan kumpulan daun kering, dulu aku seekor ulat kemudian aku berada dalam kepompong itu untuk bisa menjadi seperti ini.”

“Apa kau tak merasa sakit di kurung dalam benda itu?”

“Tidak, karena aku tahu itulah perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan agar aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Jika dulu aku menyerah, aku mungkin akan tetap menjadi ulat atau bahkan akan menjadi bangkai yang tak berguna.”

“Ilalang, aku pamit dulu. Aku ingin menyapa dunia di hari istimewa ini. Semoga harimu menyenangkan.” lanjutnya

“Oya silahkan…terima kasih, semoga harimu selalu istimewa.”

Aku amati setiap gerak kepakan sayapnya, begitu indah, tenang, anggun dan damai. Lagi, hari ini aku belajar sesuatu. Jangan pernah kau menilai sesuatu dari kenampakannya saja. Dan lagi-lagi ini tentang sebuah perjuangan. Tak ada keindahan yang datang tiba-tiba. Benar kata kupu-kupu tadi, perjuangan itu butuh kesabaran, keikhlasan dan percaya. Yakin bahwa akan ada hasil yang baik dan tidak ada yang sia-sia. Karena jika kita berhenti maka kita tak pernah jadi apapun bahkan mungkin kita akan mati menjadi bangkai.

Sinergi kodrati ulat menjadi kupu-kupu adalah pengejawantahan hubungan yang saling melengkapi. Ulat belum disebut “sukses” ketika gagal menjadi kupu-kupu. Sementara kupu-kupu tak bisa langsung menjelma dengan segala keapikannya, tanpa menjadi ulat sebelumnya.

Selagi aku merenung aku terus mengamatinya, dan tiba-tiba dia menghampiri sebuah bunga yang mekar. Ternyata Kupu-kupu pun kemudian bersinergi dengan bunga, untuk menghasilkan buah dan bunga yang apik dan segar. Kupu-kupu memberi pelajaran, bagaimana menjadi berguna untuk makhluk lain. Kaca benggala yang bisa kita ambil, adalah melakukan banyak hal, keindahan yang kita miliki tak akan berguna ketika kita tidak melihat orang lain merasakannya. Kita harus berbuah bukan untuk diri sendiri, tapi juga orang lain. Betapa pun kecilnya buah yag kita hasilkan. Kupu-kupu tak pernah egois. Belajar sederhana dari alam…

Tuhan, lagi-lagi aku belajar…

Terima kasih untuk hari ini,

Untuk segalanya, untuk nyawa yang masih KAU amanatkan padaku.

Semoga akan ada hari yang indah, selalu.

Aku selalu percaya akan Janji-janji kehidupanMU.

One thought on “Chapter Three – Kepakan Sayap Sang Kupu-kupu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s