Am I Ready?


Pesan Singkat di ponsel itu membangunkan saya pada suatu malam di Oktober Awal silam. Pengirimnya seorang sahabat yang akan menikah pada bulan November di tahun yang sama. Jeda sebulan dari hari penting tersebut, isi pesan itu kontan membuat saya terkejut. Inti pesannya sederhana, sebuah pertanyaan dan harapan yang mungkin akan dikorbankan:

“Apakah keputusanku (untuk menikah) tepat?”

membaca lamat-lamat pesan itu, saya semakin sulit dan berhati-hati membalas pesan singkat sahabat saya yang sedang bimbang itu. Pesan itu mungkin sebuah curahan hati yang mewakili banyak orang yang akan memulai sebuah tahapan baru dalam kehidupannya.

***

Tanda tanya dalam hati saya pun membesar, begitu sulitkah pernikahan itu? Saya pun teringat konsep pernikahan dalam kultur Jawa : sebuah harmoni. Pernikahan dipandang sebagai penyatuan dua konsep dunia: fisik dan metafisik. Perkawinan adalah lelaku untuk menyelaraskan dua konsep dunia secara bersama, sebuah perjalanan spiritual dan kultural yang bermuara pada masyarkat, jagat gedhe (makrokosmos).

Kepelikan bahkan terhadap hal yang remeh temeh, seperti menyatukan konsep pernikahan ala kita dan ala orangtua, keinginan kita, pasangan dan orangtua, merasa ribet terhadap hal-hal yang sebenarnya sepele. Hal tersebut membut saya tidak bisa memberi reaksi berlebih ketika suatu kali ada orang yang berujar “Ya ampun, mengerikan sekali berumahtangga itu!” sebuah reaksi dari segelintir orang yang akhirnya memilih melajang seumur hidupnya (padahal ini bukan sebuah pilihan, dan dalam ilmu agama pun ini tidak diperbolehkan).

Lalu  dimanakah optimisme? Lagi-lagi saya bertanya dalam hati…

Bukankah optimisme berbentuk harapan yang indah-indah tentang makna pernikahan? Apakah optimisme hanya sekedar imajinasi tentang gaun indah dan kebaya yang anggun, cincin emas yang melingkar dijari manis, pesta pernikahan yang dihiasi senyum banyak orang hingga bulan madu yang romantis? Bukankah sikap optimis juga bisa berarti kepiawaian pasangan melintasi onak dan rintangan dalam pernikahan dengan komitmen besar?

***

Di tahun berikutnya saya berbincang-bincang lagi dengan sahabat saya si pengirim pesan. Ia telah menikah dan sedang mengandung dua bulan. Usai meneguk segelas teh, ia berujar “Ketidaksiapan akan selalu mengiringi hati seseorang yang ingin menikah. Timbang dan hitung yang keras itu harus, lalu genapilah dengan keberanian.” Lalu pikiran saya pun menerawang, menimbang-nimbang, lalu bertanya “Am I Ready?”

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s