Sebuah Catatan


– Jembatan Zaman –

Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalnya.
Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah. Ia merasa telah melihat segala dari ketinggiannya. Namun masih ingatkah ia dengan sepetak tanah mungil waktu kecil dulu? Masih pahamkah ia akan semasa kecil ketika semut serdadu bagaikan kereta raksasa dan setetes embun seolah bola kaca dari syurga, takala ia tak peduli dengan pola awan di langit dan tak kenal tiang listrik?

Waktu kecil dulu, kupu-kupu masih sering hinggap di pucuknya. Kini burung besar bahkan bersangkar di ketiaknya, kawanan kelelawar menggantungi buahnya. Namun jangan sekali-kali ia merendahkan kupu-kupu yg hanya menggeliat di tapaknya, karena mendengar bahasanya pun ia tak mampu.

Setiap jenjang memiliki dunia sendiri yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yg sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yg semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yg segala tahu.

Dapatkah kita kembali mengerti apa yang ditertawakan bocah kecil atau yg digejolakan anak belasan tahun seiring dengan kecepatan zaman yg melesat meninggalkan? Karena kita tumbuh ke atas tapi masih dalam petak yang sama. Akar kita tumbuh ke dalam dan tak bisa terlalu jauh ke samping. Selalu tercipta kutub-kutub pemahanan yg tak akan bertemu kalau tidak dijembatani.

Jembatan yang rendah hati bukan Kesombongan Diri.

-Lilin Merah-

Ada kalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun yg terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran yg bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya waktu.

Keheningan mengapung kenangan, mengembalikan cinta yg hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi cermin yg membuat kita berkaca, suka atau tidak pada hasilnya.

Lilin merah berdiri megah di atas glazur, kilau apinya menerangi usia yg baru berganti. namun, seusai disembur napas, lilin tersungkur mati didasar tempat sampah. hangat nyalanya sebatas sumbu dan usailah sudah.

Sederet doa tanpa api menghangatkanmu di setiap kue hari, kalori bagi kekuatan hati yg tak habis dicerna usus. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dlm gelap.

Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari.

Kumpulan Cerita dan Prosa satu dekade
Filosofi Kopi
-Dee-
(Filosofi Kopi/Penulis, Dee-Cet.1-Jakarta: Truedee Books&GagasMedia, 2006)

2 thoughts on “Sebuah Catatan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s