Teman Sejati hanyalah Amal


“Betapa menyesalnya aku ketika Matahari telah tenggelam, Umurku telah berkurang tapi Amalku tidak bertambah…”

Kehidupan bukan hanya tentang bagaimana nasib kita, tapi juga tentang nasib orang-orang disekitar kita.

Setiap manusia hidup dengan takdirnya masing-masing, tidak ada yang sama.

Tapi terkadang sebagian manusia memonopoli persepsi sebuah kehidupan yang ideal pada pencapaian-pencapaian tertentu.

Sebuah perspektif ‘formal’ itu telah menciptakan histerianya sendiri, yang bisa membuat sebagian orang harus merasa tertekan dengan perspektif atau anggapan yang tidak selalu bertaut dengan kenyataan.

Stigma yang mungkin secara formal bisa dikatakan gagal.

Di bangku pendidikan, yang mungkin harus membuat kita terlambat/gagal lulus. Disaat teman-teman kita sudah bergulat dengan metamorfosisnya.Ini soal Gelar, bukan soal Ilmu.

Di dunia kerja, dimana pekerjaan yang kita jalani bukanlah sebuah pekerjaan yang memiliki penghasilan tetap dan cukup, tidak berseragam, tidak kantoran. Ini soal Penghasilan bukan soal Pekerjaan.

Bahkan bagi perempuan, ketika umur sudah tak lagi muda, satu per satu teman menyempurnakan separuh diennya, desakan dari keluarga. Lagi-lagi Soal Status Sosial bukan Soal Ibadah.

Sekarang bukan lagi menanyakan apa yang kita dapat hari ini, tapi apa yang bisa kita perbuat hari ini.

Biarlah hari ini kita belum memiliki gelar pendidikan yang membanggakan, hari ini belum bisa memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap, dan bahkan hari ini masih berstatus lajang.

Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa berbuat apapun kondisi yang sedang kita jalani.

Bukankah sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?

Ya, berbuat….mengerjakan sesuatu yang bermanfaat…menghasilkan amal yang baik.

Ada baiknya kita melihat cara pandang bertumbuh,

Hidup dipandang tidak lagi relevan ketika ‘stigma’ gagal itu datang. Tak ada yang bisa disalahkan, kecuali diri kita sendiri. Seolah tak ada yang bisa diperbaiki setelah kegagalan itu terjadi. Sebuah kesimpulan yang mengerikan.

Sementara proses bertumbuh melebihi batas-batas formalitas. Bertumbuh merupakan ‘proses’ menjadi dan menuju.

Ada perkembangan dan peningkatan baik kualitas dan kuantitas, berapapun atau seperti apapun bentuknya.

Persoalannya tak ada yang mencatat betapa banyak hal yang sudah kita dapatkan dari proses bertumbuh itu.

Tak ada yang menghitung banyaknya kosakata yang telah kita hafal.

Tak ada yang memperhatikan betapa banyak gerak fisik yang kita lakukan.

Tak ada yang menghiraukan berapa banyak persoalan hidup dengan segala spektrumnya yang berhasil kita selesaikan.

Itu semua adalah progress, kemajuan. Bukan soal waktu atau berapa lama untuk menempuhnya.

Ini soal kemauan untuk menjadi baik. Bahkan ketika masih berupa niat, agama saja mengapresiasinya sebagai sebuah kebaikan.

Jika bertumbuh merupakan sebuah proses, maka selalu ada ruang untuk segala ketidaksempurnaan.

Keinginan tak selalu bertaut dengan hasil bahkan dengan perencaan sematang apapun.

Maka ada kisah jatuh bangun, up and down, haru birunya hidup.

Jalur formal adalah kesempatan yang tak semua orang mendapatkannya. Sementara kesempatan bertumbuh semua orang memilikinya.

Jalur formal merupakan satu fase untuk bertumbuh. Sementara kehidupan merupakan rentang panjang untuk terus bertumbuh.

Jalur formal mungkin memberikan gelar dan status. Sementara kemauan bertumbuh menjanjikan kapasitas.Terakhir,

Jika seseorang yang nampak ‘gagal’ secara formal bisa tetap berfikir untuk tetap berbuat. Maka, alangkah lebih baiknya jika kita menjadi seseorang yang ‘berhasil’ secara formal dan selalu untuk berfikir untuk tetap berbuat.

Ingat, hidup bukan hanya sekedar…

Seberapa tinggi gelar pendidikan kita,

Seberapa besar penghasilan kita,

Apa jabatan kita,

Siapa pendamping hidup kita,

atau bagaimana takdir menentukan nasib kita.

Tapi hidup itu tentang Amal.

tentang apa yang bisa kita lakukan, kita perbuat, kita kerjakan.

Ini bukan soal Hasil tapi Ini soal Proses.

*Spirit for Sahrul Ramadhan.

About these ads

2 thoughts on “Teman Sejati hanyalah Amal

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s